Loading...

Upaya Membantu Petani Agar Tetap Produktif

01 November 2024
Telkom University Jakarta

Projek

  • Judul:Upaya Membantu Petani Agar Tetap Produktif
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BOGOR, CIJERUK, CIBALUNG.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University Jakarta
  • Ketua:Muhammad Rafadi Kurniawan
  • Angota#1:Muhammad Rafadi Kurniawan, Defari Akbar Anggara, Raehan Aldiansyah

SDGs

Energi Bersih dan Terjangkau

Share

Deskripsi

SEJAK lama warga Desa Cibalung di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, menggantungkan hidup pada pertanian padi dan hortikultura. Namun dalam beberapa tahun terakhir, luas lahan yang dapat digarap petani terus berkurang. Data mencatat, lahan padi yang tadinya 1.018 hektar pada 2019 menyusut menjadi 908 hektar pada 2023. Hal serupa terjadi pada hortikultura yang turun dari 390 hektar menjadi 370 hektar. Kondisi ini diperparah dengan persoalan klasik: para petani masih kesulitan membaca kelembapan tanah dan sering keliru menentukan waktu penyiraman. Akibatnya, gagal panen kerap terjadi. Melihat kenyataan itu, sekelompok mahasiswa Telkom University Jakarta berinisiatif membawa teknologi ke tengah sawah. Mereka menamakan proyeknya Air Jitu: Inisiasi Smart Village dengan PLTA Mikro dan Sistem Monitoring Kelembapan Tanah Berbasis IoT. Inovasi ini lahir lewat program Innovillage 2024 dan langsung diuji di Desa Cibalung. Tujuannya sederhana yaitu membantu petani menjaga kondisi tanah tetap ideal serta menyediakan sumber listrik cadangan bagi warga. Proses implementasi dimulai dengan observasi lapangan. Tim Voyager turun langsung ke sawah, pintu air, dan perkampungan. Mereka berdiskusi dengan perangkat desa untuk menyamakan kebutuhan masyarakat dengan solusi yang ditawarkan. Setelah itu, mereka merakit sensor kelembapan tanah berbasis Internet of Things. Sensor ini mampu membaca tiga kategori kondisi: kering dengan kadar air 0–30 persen, sedang pada 30–60 persen, dan basah di atas 60 persen. Data ini membantu petani menentukan kapan harus menyiram atau justru menunda agar tanaman tidak rusak. Selain sensor, tim juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mikro di pintu air. Turbin sederhana itu memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan energi listrik. Fungsinya sebagai sumber daya cadangan, terutama saat pasokan dari PLN terganggu. Hasil uji coba menunjukkan turbin dapat bekerja stabil dengan efisiensi konversi energi mencapai 85 persen, sekaligus menurunkan emisi karbon hingga 20 persen. Implementasi tidak berhenti pada pemasangan alat. Tim juga menggelar sosialisasi dan pelatihan kepada warga. Dua sensor kelembapan diserahkan ke perangkat desa agar bisa dipinjam bergantian oleh petani. Sifatnya portabel, sehingga mudah dibawa dari satu lahan ke lahan lain. Efisiensi penggunaan air meningkat hingga 30 persen, biaya operasional petani berkurang, dan hasil panen lebih terjaga. Sementara itu, listrik dari PLTA mikro kini dimanfaatkan oleh posyandu desa untuk penerangan dan kegiatan pelayanan kesehatan ibu serta anak. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Selain tim mahasiswa, dosen pendamping memberikan arahan teknis, perangkat desa mengawal pelaksanaan, dan warga ikut terlibat dalam pemasangan hingga perawatan alat. Partisipasi ini membuat proyek lebih berkelanjutan, sebab masyarakat sudah terbiasa mengelola alat secara mandiri. Meski sempat menghadapi tantangan seperti medan curam menuju pintu air dan risiko pencurian alat, semangat kolaborasi membuat semua bisa diatasi. Ke depan, teknologi ini masih bisa dikembangkan lebih jauh, misalnya dengan menambah fitur pemantauan unsur hara tanah atau memperbesar kapasitas energi listrik. Harapannya, petani kelak dapat mengakses data kelembapan secara real-time melalui gawai, dan fasilitas umum di desa bisa lebih mandiri energi.

Top