Mengubah Sampah Jadi Aset di Bojongsoang
01 November 2024
Universitas Telkom
Projek
- Judul:Mengubah Sampah Jadi Aset di Bojongsoang
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BANDUNG, BOJONGSOANG, BOJONGSOANG.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
- Ketua:Utami Dwi Nurcahyani
- Angota#1:Utami Dwi NurcahyanI, Muqhita Rahima Bakri, Mahardika Lutvia Maharaja
SDGs
Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan Penanganan Perubahan IklimShare
Deskripsi
PERMASALAHAN sampah di Bojongsoang sudah lama menghantui warganya. Desa yang semakin padat akibat alih fungsi lahan ini menghasilkan volume sampah yang terus meningkat. Kondisi bertambah runyam ketika TPA Sarimukti penuh, membuat sampah menumpuk di TPS desa. Banyak warga akhirnya membakar sampah untuk mengurangi timbunan, padahal asapnya merusak kualitas udara dan membahayakan kesehatan. Di tengah situasi itu, muncul kebutuhan mendesak akan cara baru yang lebih bijak dan terukur dalam mengelola sampah. Keresahan ini mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Telkom merancang solusi berbasis teknologi bernama Recyclist, sebuah aplikasi mobile yang sederhana namun fungsional. Tujuannya membantu masyarakat memilah sampah anorganik, mencatat transaksi penjualan ke bank sampah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Dengan teknologi ini, proses pengelolaan sampah yang sebelumnya tidak tercatat bisa lebih transparan dan bernilai. Recyclist tidak lahir begitu saja. Tim pengembang lebih dulu melakukan observasi dan wawancara dengan perangkat desa, karang taruna, hingga petugas TPA. Dari sana, mereka menemukan masalah inti: rendahnya literasi digital masyarakat dalam pencatatan, dan minimnya kesadaran memilah sampah. Aplikasi ini lalu dirancang sesederhana mungkin agar mudah dipakai semua kalangan. Fitur utamanya meliputi pencatatan volume sampah, monitoring hasil penjualan, dan laporan keuangan. Dengan begitu, sampah tidak lagi dipandang sekadar limbah, melainkan sumber pemasukan. Proses implementasi dimulai dengan sosialisasi. Warga di RW 07 dan RW 08 menjadi kelompok percontohan. Mereka diberi edukasi tentang pemilahan, lengkap dengan fasilitas tempat sampah anorganik. Karang taruna ikut dilatih untuk mengoperasikan aplikasi. Sampah yang sudah dipilah kemudian diambil petugas sesuai kategori dan dijual ke bank sampah. Hasilnya tercatat rapi dalam aplikasi, memudahkan warga dan pengelola mengetahui pemasukan yang dihasilkan. Dampak awal cukup terasa. Intensitas pembakaran sampah menurun hingga 40 persen. Sekitar 80 persen warga yang mendapat edukasi mulai terbiasa memilah sampah di rumah. Penjualan ke bank sampah pun menambah penghasilan tambahan bagi warga dan karang taruna. Selain itu, aplikasi ini mengangkat kesadaran lingkungan sekaligus melatih masyarakat menggunakan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Dari survei kepuasan, 85 persen pengguna mengaku sangat terbantu, bahkan 95 persen merasa literasi digital mereka meningkat. Keberhasilan awal ini menumbuhkan optimisme untuk keberlanjutan. Pemerintah desa menaruh dukungan, dan dalam enam bulan ke depan ditargetkan lima RW lain ikut terlibat, melibatkan sekitar 500 kepala keluarga. Recyclist juga dirancang fleksibel untuk pengembangan fitur tambahan, mulai dari edukasi cara mendaur ulang, sistem insentif warga, hingga pelacakan dampak lingkungan. Kolaborasi dengan bank sampah, startup lingkungan, dan CSR perusahaan pun terbuka lebar, memberi peluang aplikasi ini tumbuh lebih luas.