Loading...

Teknologi Ramah Lingkungan untuk Mengatasi Krisis Air Bersih

01 November 2024
Universitas Muhammadiyah Aceh

Projek

  • Judul:Teknologi Ramah Lingkungan untuk Mengatasi Krisis Air Bersih
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:ACEH, ACEH BESAR, DARUL KAMAL, BILUY.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Muhammadiyah Aceh
  • Ketua:Ilham Akbar
  • Angota#1:Ilham Akbar, Muhammad Al Faridzi Puteh, Vivi Deanata

SDGs

Akses Air Bersih dan Sanitasi

Share

Deskripsi

I NOVASI sistem pengelolaan air bersih di Desa Biluy, Aceh Besar, telah memberikan solusi praktis untuk mengatasi masalah kekeringan dan krisis air bersih yang sering terjadi di sana. Desa Biluy, yang terletak di wilayah yang rawan kekeringan, telah lama menghadapi masalah keterbatasan air bersih, terutama saat cuaca ekstrem. Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 70% wilayahnya terdiri dari perairan, distribusi air bersih tidak merata, terutama di daerah perdesaan. Masalah ini semakin pelik dengan perubahan iklim global yang mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas kekeringan. Masyarakat Desa Biluy, mayoritas berprofesi sebagai petani dan pedagang, sangat bergantung pada ketersediaan air bersih untuk mendukung aktivitas mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, kekurangan air bersih menyebabkan gangguan pada kehidupan sehari-hari, mulai dari kesehatan hingga mata pencaharian. Program yang dikembangkan oleh tim Meusyuhu mengintegrasikan teknologi filter biosand dan biochar dalam sistem sumur resapan, ditambah dengan penggunaan panel surya sebagai sumber energi terbarukan. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan air dengan cara menyaring air hujan yang dapat digunakan sebagai air bersih. Selain itu, solar cell dihadirkan untuk memastikan bahwa sistem ini ramah lingkungan dan mandiri secara energi, mengurangi ketergantungan pada sumber daya lain yang lebih terbatas.Selama implementasi program, tim telah melalui beberapa tahap, dimulai dari koordinasi dengan pihak desa dan masyarakat, hingga pengadaan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membangun sistem sumur resapan dan filter air. Lokasi strategis yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas dipilih setelah diskusi dengan Keuchik dan pihak desa. Setelah perencanaan matang, tim memulai tahap pembangunan fisik dengan menggali sumur dan memasang cincin sumur, serta membuat talang air untuk mengalirkan air hujan ke dalam sistem penyaringan. Proses ini diikuti dengan pemasangan sistem panel surya yang akan mengoperasikan lampu UV untuk mensterilkan air. Meskipun terdapat tantangan cuaca yang mempengaruhi proses pengeringan dan instalasi, tim berhasil menyelesaikan setiap tahapan dengan baik. Proyek ini juga melibatkan masyarakat setempat dalam pembuatan sumur resapan dan talang air, yang turut serta dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial. Selain itu, tim melakukan sosialisasi kepada sekolah-sekolah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan air bersih yang berkelanjutan. Dengan sistem ini, tim Meusyuhu berharap Desa Biluy dapat mengatasi krisis air bersih yang terjadi setiap tahun. Keberhasilan program ini bukan hanya terletak pada penyediaan air bersih, tetapi juga pada pengurangan ketergantungan pada bantuan luar, sehingga masyarakat desa dapat lebih mandiri dalam menghadapi tantangan kekeringan. Program ini juga menjadi model yang bisa diterapkan di desa-desa lain yang menghadapi masalah serupa, dan diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh komunitas yang terlibat.

Top