Loading...

Perancangan Aplikasi Website Wisata Desa : Ketapas

28 Oktober 2020
Telkom University

Projek

  • Judul:Perancangan Aplikasi Website Wisata Desa : Ketapas
  • Tanggal:28 Oktober 2020 - 06 Desember 2020
  • Lokasi Sosial Projek:Jawa Barat, Kabupaten Purwakarta, Bojong, Pasanggrahan.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University
  • Ketua:Kurniadi Ahmad Wijaya
  • Angota#1:Ignasius Nindra Karisma F
  • Angota#2:Priyan Fadhil Supriyadi

SDGs

Infrastruktur, Industri dan Inovasi Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan

Share

Deskripsi

Pandemi merupakan suatu hal berat yang dirasakan oleh semua orang dan ya, tentu sebagai mahasiswa, kami juga merasakan dampak dari pandemi ini. Di tengah pandemi yang menyebabkan kami menjadi pasif, sulit untuk terjun dalam masyarakat, muncul suatu cahaya penerang sebagai jawaban atas segala kegundahan kami untuk menjadi aktif, berguna bagi masyarakat, serta tak lupa untuk menepati Tri Dharma dari Perguruan Tinggi. Innovillage merupakan lampu pertama yang menyala disitu. 

Pada Awal kegiatan Innovillage ini kami masih bimbang dan terus berdiskusi mengenai permasalahan dan daerah desa yang ingin kami kembangkan bersama, bermacam nama desa dari berbagai kota di Indonesia sudah kami sebutkan diantaranya ada Desa Sriwedari di Kota Surakarta, Desa Sukamulya di Jawa Barat tetapi setelah kami ber deliberasi dan berdiskusi secara lebih matang lagi dengan segala perdebatan yang tentu menyenangkan, kami akhirnya memutuskan untuk memilih Desa Sukamulya, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Alasan kami memilih Desa itu? Jelas yang pertama adalah permasalahan yang ditemukan di desa itu yaitu kurangnya peranan teknologi untuk memasarkan segala hasil kerajinan tangan serta keindahan alam yang dihasilkan dari sebuah desa yang saya yakin mungkin hanya sekitar 10% orang Indonesia yang tahu mengenai keberadaan desa ini. Alasan kedua mengapa desa ini dipilih adalah karena letaknya yang berada strategis dari daerah rumah kami, sehingga memudahkan bagi kami untuk saling bertemu dan juga purwakarta pada saat itu masih belum memiliki catatan zona merah untuk COVID 19 sehingga kami pikir aman untuk kami jadikan tempat untuk produktif. 

Lokasi sudah ditentukan, tentu hal yang dilakukan setelah itu adalah menyusun proposal mengenai kegiatan apa yang akan dilakukan disana, mengenai apa saja yang akan kami bisa berikan untuk sebuah desa kecil dengan kekayaan alam dan kerajinan tangan yang besar serta elok. Ada hal yang menarik saat kami menyusun proposal, yakni kami menyusun proposal dengan sistem candi. Apa itu sistem candi? Sistem candi adalah sistem sebutan saya atau mungkin sebagian orang dimana seseorang mengerjakan suatu proyek yang cukup panjang dengan durasi satu malam saja. Iya, Proposal dari Ketapas ini dikerjakan selama semalam atau lebih tepatnya dari pukul setengah 7 malam hingga pukul setengah 2 dini hari. Dalam pengerjaannya kami berkoordinasi menggunakan media google meet serta untuk tools membuatnya kami menggunakan figma agar terlihat lebih menarik. Kami melakukan tugas kami masing masing dalam pembuatan proposal dan video sesuai dengan jobdesk yang telah diberikan oleh Kurniadi yang kami percayai menjadi ketua dari tim Desaku ini. Ide dari proposal ini yaitu dengan membuat website bagi desa tersebut pun dengan sangat mudah dan cepat disetujui oleh pembina kami sehingga memudahkan dan memperlancar kami untuk melakukan penyusunan proposal secara lebih mantab.

Semuanya berjalan lancar, tapi pada saat proposal dan video ini sudah jadi dan siap dikumpulkan, sedikit terjadi drama disitu. Drama dimulai ketika website dari Innovillage mengalami sedikit masalah dalam pengunggahan file proposal. Kami sempat panik karena takut atau khawatir proposal dan video yang telah kami kerjakan akan menjadi sia sia karena tidak bisa didaftarkan di program Innovillage ini tetapi kekhawatiran dan kebingungan itu terjawab setelah kami menghubungi panitia dari Innovillage sendiri dan ternyata memang ada kendala sehingga pengumpulan proposal diundur menjadi pukul 10 pagi. Kami merasa lega, lalu karena kami sudah merasa cukup lelah karena melakukan pengerjaan proposal secara marathon, kami sepakat untuk beristirahat dan proposal akan dikumpulkan di pagi harinya nanti, dan proposal pun akhirnya terkumpul.

Proposal telah dikumpulkan, kami tinggal menunggu hasil dari penyaringan proposal tersebut oleh panitia. Kami saat itu tahu bahwa mengalahkan 200 tim lainnya untuk dapat masuk ke 100 besar tim terpilih bukanlah hal yang mudah tapi ya apa boleh buat, kami sudah berusaha biarlah Yang Diatas yang menyempurnakan. 

Pada suatu sore selesai melakukan kuliah daring, Grup yang berisikan kami bertiga bergetar. Saya otomatis membuka grup tersebut untuk melihat notifikasi apa yang ada didalamnya. Kaget adalah ekspresi pertama saya dan teman teman saya mengenai pengumuman 100 besar tim terpilih Innovillage. Tim kami lolos dalam 100 tim tersebut. Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan karena jika tidak karena berkatNya, kami tidak mungkin diberi kesempatan untuk dapat memberi berkat kembali kepada orang lain terutama kepada desa Pasanggrahan ini, maka dengan langkah yang mantap, kami mulai bergerak dengan menyusun jobdesk lagi untuk minggu pertama serta untuk 3 minggu kedepannya. Pada minggu pertama kami masih melakukannya secara online di rumah kami masing masing, akan tetapi, kami menyuruh satu orang tim kami yaitu, Fadhil yang bertempat tinggal di Purwakarta untuk melakukan ramah tamah dan pemberitahuan kepada Desa Pasanggrahan mengenai project pengembangan desa yang akan kami kerjakan pada desa tersebut. Saat di desa tersebut, teman kami tidak menemukan kepala desa karena saat itu beliau sedang ada acara lain maka pertemuan pertama itu digantikan dengan sekretaris desa yaitu Pak Edi. Beliau merupakan orang yang ramah dan juga sangat peduli pada desa Pasanggrahan. Hal ini dibuktikan dari kepedulian dan pengetahuan serta keakrabannya terhadap Desa Pasanggrahan secara mendalam. Setelah melakukan ramah tamah dan penjelasan terhadap project yang akan kami kerjakan, Pak Edi merespon dengan sangat baik dan sangat setuju akan ide yang kami usulkan, kami pun tentu semakin semangat dalam menjalani kegiatan pengabdian masyarakat ini. Tentu setiap kegiatan per minggu ini diabadikan menjadi sebuah video yang diunggah ke youtube sebagai bentuk kenangan dan juga mungkin penghargaan. Hal itu kami lakukan di minggu kedua dan ketiga, akan tetapi di minggu kedua dan ketiga ini kami sama sekali tidak mengunjungi lokasi desa karena kami fokus dalam pengembangan website dari desa tersebut. 

Tidak terasa, minggu keempat pun datang, di minggu keempat ini kami sepakat untuk bertemu di Purwakarta karena ingin langsung terjun ke desa untuk menengok serta melihat keindahan desa tersebut selagi mengerjakan dan memperkenalkan website wisata desa ini ke desa tersebut. Saya yang berasal dari Surakarta melakukan rapid test di stasiun sesaat sebelum keberangkatan ke Bandung menggunakan kereta. Protokol Kesehatan tetap utama kami junjung agar tidak merugikan siapapun. Singkat cerita, Saya sudah sampai di Bandung dan bergegas menuju ke shuttle travel untuk menaiki travel dan menuju ke Purwakarta. Kalau ditanya capek waktu perjalanan? Ya tapi karena ini merupakan suatu kesenangan dan seperti pengalaman berharga bagi saya jadi rasa capek itu tidak cukup terasa. Teman kami yang dari Bandung pun juga sama menaiki travel untuk sampai ke Purwakarta. Setelah sampai di Purwakarta, kami melepas penat di rumah teman kami yang berada di Purwakarta yang tidak lain tidak bukan adalah Fadhil. Disana kami bertukar pikiran dan bertukar pendapat mengenai rencana ke desa besuk pagi. 

Keesokan harinya, kami langsung mandi dan bergegas menuju ke Desa Pasanggrahan yang menempuh jarak sekitar 30 menit dari rumah teman kami. Perjalanan terasa sangat menyenangkan dan juga seru karena medan yang dilalui untuk menuju ke desa ini cukup menantang dan juga karena desa ini dekat dengan gunung sehingga jalan menanjak adalah hal yang harus dilewati. Dalam Perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan yang asri, indah, dan belum rusak. Ya kami harap pemandangan itu akan tetap selalu begitu, tidak berganti karena ulah manusia. Udara yang berada di perjalanan menuju desa ini juga sangat segar. 

Sampailah kami di Desa Pasanggrahan dengan rapi yakni menggunakan masker, topi, serta rompi yang telah diberikan oleh panitia kepada kami. Tak lupa kami juga membawa cinderamata dan surat pernyataan penyerahan website untuk nantinya diserahterimakan kepada Desa Pasanggrahan. Kami pun langsung berjalan menuju kantor kepala desa. Namun disini dengan sangat disayangkan, kami gagal untuk menemui kepala desa lagi, hal ini dikarenakan beliau sedang sakit sehingga kesempatan serah terima ini diwakilkan oleh Pak Edi selaku sekretaris desa. Puncak kesenangan kami adalah pada saat kami melihat senyum di muka Pak Edi dan Penghuni Desa karena Desanya menjadi terlihat keren dan modern dalam tampilan website. Rasanya seperti lega, nyaman. Setelah itu kami juga berkesempatan untuk mengunjungi kawasan wisata dari desa tersebut untuk melihat pengalaman yang indah, Itu juga merupakan salah satu pengalaman yang tak terlupakan yang kami alami selama melakukan pengabdian masyarakat. Tapi sayangnya kami tidak dapat berlama lama di desa itu karena tiket kereta sudah dipesan, yang artinya jadwal kepulangan saya dan teman saya sudah ditentukan. Sebenarnya kami masih ingin berlama tapi hal ini juga dikarenakan adanya pandemi ini yang menyebabkan kami tidak bisa berlama lama di kota orang karena merasa tidak aman. Kami pulang ke rumah kami masing masing dengan perasaan lega.

Sekian mungkin cerita atau narasi dari perjalanan kami dalam proyek Innovillage ini, kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Panitia Innovillage yang telah memberikan kami kesempatan untuk mengikuti acara ini. Tentu proyek ini tidak akan kami lupakan karena dalamnya kesan yang diberikan. Terima Kasih. Tuhan Memberkati kita semua. Stay Safe dan Jaga Kesehatan.

Suka Duka :

“Innovillage merupakan pengalaman positif dan berkesan di tengah liarnya pandemi. Dimana kita sebagai mahasiswa bisa langsung menolong mereka yang terbelakang.”


Lihat video dokumentasinya yuk

Top