Inovasi Susu Analog Berprotein Tinggi untuk Mencegah Stunting
01 November 2024
Universitas Tadulako
Projek
- Judul:Inovasi Susu Analog Berprotein Tinggi untuk Mencegah Stunting
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:SULAWESI TENGAH, KABUPATEN SIGI, MARAWOLA, DESA BINANGGAN.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Tadulako
- Ketua:Diva Avicenna
- Angota#1:Diva Avicenna, Wahyu Hidayat, Wulan Mutiara Sabani
SDGs
Mengakhiri Kelaparan Kesehatan yang Baik dan KesejahteraanShare
Deskripsi
I NOVASI dalam pembuatan susu analog berbasis ikan penja dan daun kelor di Desa Binangga, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, merupakan langkah signifikan untuk mengatasi masalah stunting yang masih mengkhawatirkan di Indonesia. Stunting adalah masalah gizi kronis pada anak-anak dan memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik dan kognitif mereka. Di Kabupaten Sigi, prevalensi stunting pada tahun 2023 tercatat sebesar 26,4%, meskipun mengalami penurunan signifikan dari tahun 2022 yang mencapai 36,8%. Angka ini, meski sudah menunjukkan perbaikan, masih jauh dari target nasional yang ditetapkan sebesar 14%. Oleh karena itu, tim InnoMilk yang terdiri dari mahasiswa Universitas Tadulako, berinisiatif untuk mengoptimalkan penurunan angka stunting di desa tersebut dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah, yakni ikan penja dan daun kelor. Ikan penja, yang dikenal kaya akan protein, omega-3, dan nutrisi lainnya, menjadi bahan utama dalam pembuatan susu analog ini. Sementara itu, daun kelor, yang memiliki kandungan mineral seperti kalsium dan zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh, ditambahkan untuk meningkatkan kualitas gizi produk. Tim InnoMilk mengembangkan susu analog berprotein tinggi yang tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak yang terindikasi stunting, tetapi juga berfungsi sebagai minuman fungsional untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan. Program sosial ini mengajak masyarakat setempat untuk terlibat langsung dalam pembuatan produk susu analog dan pemantauan konsumsi melalui platform digital. Pada fase awal implementasi, tim InnoMilk memulai dengan menyusun linimasa kegiatan, serta melakukan pembagian tugas di antara anggota tim. Diskusi perdana yang dilaksanakan pada 9 Desember 2024 mengarah pada pembentukan rencana anggaran dan pembagian pekerjaan yang lebih rinci. Tim juga melakukan koordinasi awal dengan perangkat desa dan masyarakat setempat, untuk mendata anak-anak yang terindikasi stunting, gizi buruk, dan berat badan kurang (BGM). Pendataan ini menjadi langkah awal untuk menentukan siapa saja yang akan menjadi penerima manfaat utama dari program susu analog ini. Dalam tahap ini, tim InnoMilk juga melakukan pembelian bahan-bahan yang dibutuhkan untuk produksi, seperti ikan penja dan daun kelor yang diperoleh dari pasar tradisional. Proses produksi susu analog ini diawali dengan tahap persiapan bahan baku. Ikan penja dibersihkan dan direndam dengan air jeruk untuk menghilangkan bau amis. Setelah itu, ikan dikeringkan dengan menggunakan food dehydrator pada suhu 65°C selama 24 jam untuk mengurangi kadar airnya. Ikan yang sudah kering kemudian dihaluskan menjadi bubuk menggunakan chopper dan direndam dengan alkohol food grade untuk memisahkan lemak dari ikan. Proses ini kemudian diikuti dengan tahap hidrolisis protein ikan menggunakan enzim bromelin pada pH optimal. Proses ini dilakukan untuk memecah protein menjadi asam amino yang lebih mudah dicerna tubuh. Bubuk ikan yang sudah melalui proses hidrolisis kemudian dikeringkan dengan freeze dryer, menghasilkan bubuk susu ikan yang siap untuk diproses lebih lanjut. Selain ikan penja, daun kelor juga diproses menjadi bubuk dengan cara yang sama. Daun kelor dibersihkan, dikeringkan dengan food dehydrator pada suhu 70°C, dan kemudian dihancurkan menjadi bubuk. Bubuk ikan dan daun kelor kemudian dicampurkan dengan menyesuaikan rasa dan aroma menggunakan bahan tambahan seperti creamer dan ekstrak daun stevia sebagai pemanis alami. Setelah formulasi tercapai, produk susu analog siap untuk diuji kelayakannya. Proses pengujian dilakukan pada tahap kedua implementasi, di mana susu analog diuji melalui dua jenis uji: uji proksimat untuk menilai kandungan gizi dan uji mikrobiologi untuk memastikan bahwa produk aman dikonsumsi. Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa susu analog ini mengandung protein, karbohidrat, dan lemak dengan kadar yang baik untuk mendukung pertumbuhan anak-anak. Uji mikrobiologi juga menunjukkan bahwa kandungan mikroba dalam susu tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan, menjadikannya aman untuk dikonsumsi. Selain itu, tim InnoMilk juga merancang aplikasi digital yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk memantau konsumsi susu analog secara rutin. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mencatat asupan susu anak-anak setiap minggunya, serta memberikan rekomendasi terkait nutrisi tambahan yang dibutuhkan. Aplikasi ini juga digunakan untuk melacak perkembangan tinggi badan, berat badan, dan perubahan lainnya pada anak-anak yang mengonsumsi susu, memberikan feedback langsung kepada orang tua dan tim medis mengenai kondisi kesehatan anak. Pada tahap akhir implementasi, tim melakukan uji organoleptik untuk menilai kualitas produk dari sisi rasa, aroma, tekstur, dan warna. Hasil uji menunjukkan bahwa susu InnoMilk mendapat penilaian positif dari panelis dewasa maupun anak-anak. Sebagian besar panelis menilai rasa susu ini sangat lezat, dengan aroma yang menyenangkan dan tekstur yang halus. Perbandingan dengan susu komersial juga menunjukkan bahwa susu InnoMilk lebih disukai dalam hal rasa dan kualitas keseluruhan. Uji terhadap anak-anak juga menunjukkan tidak adanya gejala atau reaksi negatif setelah mengonsumsi susu ini. Selain uji produk, tim InnoMilk juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui demonstrasi pembuatan susu analog. Acara ini melibatkan ibu-ibu kader dan masyarakat desa lainnya yang tertarik untuk mempelajari cara membuat susu analog sendiri. Sosialisasi ini bertujuan tidak hanya untuk memperkenalkan produk susu, tetapi juga untuk memberikan keterampilan baru kepada masyarakat agar mereka dapat memproduksi susu secara mandiri, meningkatkan pengetahuan tentang gizi, serta membantu mengatasi masalah stunting secara lebih luas. Keberhasilan program ini diharapkan dapat mempercepat penurunan angka stunting di Kabupaten Sigi. Dengan dukungan penuh dari masyarakat, perangkat desa, dan berbagai pihak terkait seperti ahli gizi, puskesmas, dan universitas, proyek ini memiliki potensi besar untuk memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak-anak di daerah tersebut. Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi praktis untuk masalah stunting, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan generasi masa depan.