SISTEM MONITORING CAIRAN INFUS BERBASIS IOT DAN CLOUD
Perkembangan teknologi informasi saat ini berkembang sangat pesat seiring dengan peningkatan kebutuhan layanan yang cepat dan efisien. Internet bukan hanya menjadi kebutuhan bagi orang tertentu namun sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat luas. Perkembangan teknologi ini juga telah dapat diaplikasikan di berbagai bidang/instansi seperti dalam bidang pendidikan, industri, informasi dan komunikasi, militer, bahkan dalam bidang kesehatan. Penggunaan teknologi pada bidang kesehatan dapat diterapkan di beberapa peralatan medis di rumah sakit, puskesmas maupun di rumah. Peralatan medis yang menggunakan teknologi mempunyai kelebihan dibandingkan dengan peralatan medis biasa karena peralatan medis yang dilengkapi dengan teknologi atau sistem elektronik dapat lebih memperhitungkan tingkat presisi dan ketepatan serta mendukung terciptanya peningkatan pelayanan terbaik dari rumah sakit maupun puskesmas.
Dalam periode pertama, diskusi antara ketua dan anggota tim terhadap dosen pendamping mencakup rancangan alat. Dibuatkan suatu prototype berupa stand infus yang telah terpasang microcontroller yaitu WeMos D1 dan juga sensor berupa Photodioda sensor dan servo sensor. Namun dengan prototype tersebut harus memperhitungkan tingkat level cairan infus yang akan dikeluarkan dan masuk kedalam tubuh. Puskesmas desa kendang menjadi objek membuat prototype tersebut. Catudaya yang digunakan melalui PLN, namun Ketika catudaya dari PLN mati akan dialihkan menggunakan baterai. Setelah berdiskusi dengan tim dan juga dosen pembimbing, dapat melaksanakan program dengan mengunjungi puskesmas desa kandang untuk menanyakan beberapa hal penting agar terciptanya prototype yang aman dan juga berguna bagi puskesmas tersebut.
Dalam periode kedua, dilaksanakan survey kepuskesmas kandang dengan menanyakan beberapa hal tentang kebutuhan infus bagi pasien. Didapatkan bahwa pasien dengan kondisi demam dapat diberikan cairan infus dengan kecepatan arus cairan standart. Berbeda dengan pasien dehidrasi, cairan infus dapat diberikan dengan kecepatan cairan tinggi. Dalam hal ini dapat dihabiskan 2 kantong cairan infus dalam waktu 1 jam. setelah mendapatkan informasi lebih detail dari perawat, selanjutnya dilaksanakan diskusi antara anggota tim dengan dosen pendamping dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain alat dan bahan, program, dan kesiapan alat hingga proses uji coba. Periode ini juga telah berhasil membuat alat prototype monitoring dan control cairan infus berbasis IOT.
Dalam periode akhir (periode 3), alat dan bahan telah dirangkai dan telah berhasil dijalankan. Kemudian alat yang telah dirangkai dibawa menaiki mobil menuju puskesmas kandang. Setelah dipuskesmas kandang dilanjutkan bertemu kepala puskesmas dan kepala ugd setempat. Lalu memasang prototype cairan infus ketempat tidur pasien. Selagi memasang prototype, ketua dan anggota menjelaskan fungsi fungsi sensor yang dipasang keselang infus dan juga menjelaskan aplikasi yang telah dibuat. Setelah diuji, didapatkan hasil tetesan cairan infus mudah dikontrol oleh perawat dan mudah dimengerti. Setelah mendiskusi Bersama kepala UGD, prototype yang telah dibuat sudah sesuai dengan syarat diruang UGD puskesmas desa kandang. Dikarenakan normalnya Ketika orang sakit (demam) harus mengeluarkan cairan sebanyak 20 tetes per menit dan jika orang terkena diare cairan infus akan mengeluarkan cairan sebanyak 30-40 tetes permenit. Sedangkan prototype mengeluarkan cairan sebanyak 18-23 tetesan per menit dalam kondisi servo 90 derajat. Dan mengeluarkan cairan sebanyak 40-50 tetesan per menit dalam kondisi servo 180 derajat.
Untuk melihat video dokumentasi project klik disini.