Loading...

Implementasi Sistem Pemilah Sampah Organik dan Anorganik untuk Menunjang Pariwisata Bersih di Kawasan ITDC Benoa Bali

Innovillage
Share post:

Desa Adat Bualu mempunyai masalah besar terhadap sampah mulai dari pembuangan, pengolahan, dan pemilahan antara sampah organik dengan sampah anorganik. Berdasarkan hasil observasi dari kelompok kami, pada pemukiman atau di tempat wisatamasyarakat/wisatawan masih banyak acuh tak acuh tentang pemilahan sampah di sekitar, atau membuang sampah tanpa melakukan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan di TPS Desa Bualu, kami mendapatkan fakta bahwa sampah yang terdapat pada TPS di desa tersebut masih sangat menumpuk, tidak terpilah dengan baik dan bisa dikatakan kalau sampah-sampah disana masih tercampur menjadi satu.

Dari permasalahan desa, kami juga menemukan masalah pada tempat wisata kawasan ITDC yang bertempatan di Nusa Dua, Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali, yang termasuk destinasi wisata di dunia. Di kawasan tersebut tempat sampah masih menjadi satu dan hanya ada beberapa titik tempat sampah yang berisi penggolongan tempat sampah. Dan berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan, tempat sampah di kawasan tersebut masih belum berisi pemberitahuan antara sampah Organik, Anorganik dan Logam. Kondisi sampah yang ada dilingkungan di Desa Adat Bualu dan Kawasan ITDC Nusa Dua, saat ini jenis sampahnya masih dalam kondisi tercampur dan belum dilakukan pemilahan, sehingga menjadi sebuah masalah ketika ingin dilakukan pendauran ulang.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dari itu kami tertarik untuk memberikan solusi dengan memberikan gebrakan baru dalam bidang teknologi yaitu membuat sebuah inovasi alat yang bernama “Tempat Sampah Pintar” atau STI (Smart Trash ITDC). Alat ini dapat digunakan untuk memilah jenis sampah Organik, Anorganik, dan Logam yang sangat bermanfaat untuk tempat wisata ITDC, yang akan memajukan teknologi dan mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan sampah akhir.

Maka dari itu kami memberikan solusi untuk membuat “Tempat Sampah Pintar” atau STI (Smart Trash ITDC) yang sangat bermanfaat untuk tempat wisata ITDC, yang akan memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang betapa pentingnya membuang dan memilah sampah pada tempatnya dan sesuai jenisnya, mempermudah saat melakukan pemilahan sampah karena dilakukan secara otomatis dan mengurangi penumpukan sampah, memajukan teknologi di lingkungan pariwisata, memudahkan proses recycle atau daur ulang sampah secara efisien sebelum sampai ke TPA, diharapkan dapat membantu para aktivis peduli lingkungan maupun Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memanfaatkan sampah untuk didaur ulang dan dijadikan suatu produk, menjaga kehigenisan pengguna pada saat membuka tutup tempat sampah. Jika kondisi sampah tercampur jenisnya dan sudah sampai di TPA, maka akan lebih sulit untuk proses daur ulang karena akan membutuhkan waktu dalam pemilahan sampah dan juga akan mempengaruhi kualitas sampah yang masih dapat didaur ulang. Dengan adanya alat ini diharapkan dapat membantu para aktivis peduli lingkungan maupun Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memanfaatkan sampah untuk didaur ulang dan dijadikan suatu produk. Sehingga dengan adanya gebrakan teknologi baru yang kami rancang yaitu Smart Trash ITDC juga dapat membantu para petugas kebersihan untuk memilah sampah sesuai dengan penggolongannya.

Ide awal pembuatan alat ini karena berdasarkan hasil survei yang kami lakukan pada TPS di  Desa Bualu dan pada tempat wisata di Kawasan ITDC Nusa Dua, disana kami melihat belum banyak masyarakat yang melakukan pemilihan sampah dan kebanyakan masih menumpuk menjadi satu di tempat pembuangan akhir, serta di tempat sampah yang sudah tersedia dikawasan tersebut. Apabila sampah tetap dibiarkan tidak terpilah maupun dibiarkan menumpuk menjadi satu, sampah yang bercampur akan menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari penularan berbagai macam penyakit, penurunan kesuburan tanah, pencemaran lingkungan, dan lainnya. Maka dari itu, setelah melihat kondisi tersebut kami berpikir untuk membuat tempat sampah yang bisa memisahkan sampah seusai jenisnya secara otomatis.

Pada tanggal 10 - 24 Oktober 2022 kami melaksanakan beberapa tahap periode awal dari pengimplementasian Smart Trash ITDC dengan melaksanakan pengajuan surat audiensi ke Kawasan ITDC, kemudian melakukan pertemuan dengan Bapak Alit Astawa selaku Kepala Pengelola Kebersihan dan Pemberdayaan Sampah ITDC untuk memberikan penjelasan terkait izin dan pengimplementasian kegiatan kami untuk STI kemudian pemaparan secara jelas untuk sistem alat yang kami rangkai.

Kemudian kami melakukan pembelian bahan-bahan dan menjelaskan kerangka Cover STI dengan mengunjungi beberapa tempat pembutan seperti Furniture, Bengkel Las dan Toko bangunan. Selanjutnya kami menemukan kendala dari desain yang awalnya telah kami rancang. Menurut Bapak Wayan selaku mandor las yang kami ajak diskusi mengenai desain pintu cover yang awalnya kami desain pintunya dibuat terbuka dari atas ke bawah ternyata tidak direkomendasikan dan dianggap tidak cocok apabila digunakan seperti itu. Karena apabila pintu dibuat terbuka seperti itu, dikhawatirkan akan merusak bagian pintu karena takut akan terinjak oleh petugas kebersihan dan ditakutkan akan cepat rusak karena harus menahan beban dari tong sampah apabila terisi penuh. Kemudian solusi yang kami dapatkan adalah menggunakan pintu seperti pada umumnya, yang dibuka seperti lemari agar saat pengambilan tong sampah, pintu tidak terinjak, tidak mudah rusak dan tidak menyulitkan para petugas kebersihan pada saat pengambilannya. Kemudian kami melanjutkan ke tahapan pembentukan mulai dari pengukuran, pemotongan, las dan cat dasar. Kami di bantu oleh Bapak Wayan dan beberapa crew pemotongan las agar pengerjaan sesuai target yaitu 15 hari di tahap periode pertama. Di sela-sela pembuatan kami juga melakukan survei di beberapa tempat untuk pembelian sensor dan bahan-bahan untuk uji coba jika coba sudah selesai sepenuhnya.

Kemudian, pada tanggal 25 Oktober - 8 November kami melaksanakan beberapa tahap periode tengah dari pengimplementasian Smart Trash ITDC, yang dimulai dengan koordinasi bersama tim untuk membahas pembelian alat dan bahan yang kurang seperti servo dan sensor-sensor, serta membahas tahap uji coba alat. Kemudian kami melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing untuk membahas perakitan, pengujian alat (pada setiap sensor), dan progress kedepannya.

Pada saat pengujian sensor proximity kapasitif kami memiliki sedikit mengalami kendala yaitu pada saat pembacaan sensor masih belum tepat karena sensornya terlalu sensitif, maka dari itu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pengujian alatnya agar mendapatkan hasil yang maksimal. Kendala lainnya yang kami dapati yaitu, kami memiliki kesulitan akses ke ITDC sehingga tidak dapat melakukan survei lebih lanjut ke tempat pengimplementasian dikarenakan adanya pembatasan dan pengalihan jalan, serta pembatasan izin memasuki Kawasan ITDC Nusa Dua yang sangat ketat karena adanya kegiatan KTT G20 yang dilaksanakan sampai tanggal 20 November 2022, yang bertempatan di kawasan ITDC Nusa Dua.

Selanjutnya, selama tanggal 9 s.d. 28 November 2022 sebagai progress tahap akhir dari pengimplementasian Smart Trash ITDC, kami melakukan survei implementasi dengan pembuatan formulir terhadap warga dan pengunjung kawasan ITDC, dan melakukan survei untuk penempatan alat STI. Kami juga melanjutkan proses perakitan dan pengujian alat pada servo sebagai penggerak pada alat pemilah, sensor infrared untuk membaca atau mendeteksi adanya sampah, kemudian sensor proximity induktif untuk mendeteksi adanya sampah logam, dan sensor proximity kapasitif untuk mendeteksi adanya sampah organik atau anorganik.

Kemudian kami juga melakukan pembuatan coding pada software Arduino IDE dari cara pembacaan sensor-sensor, pembacaan servo dan percobaan tampilan LCD. Selanjutnya kami juga melakukan percobaan berkala cek eror/troobleshooting terhadap pembacaan sensor dan coding tersebut. Kemudian pada bagian pembuatan kerangka dan alat tempat sampah STI, kami melakukan pengecatan pada cover STI, melakukan instalasi sensor pada cover dan cek sudut kemiringan pemilah, dan pembuatan stiker untuk alat tersebut.

Kegiatan terakhir yang kami lakukan adalah penyebaran surat izin dan implementasi pada pihak yang berada di Kawasan ITDC, membuat dan menyebarkan Surat Undangan Peresmian dan hibah alat, melakukan sosialisasi alat STI kepada masyarakat sekitar dan tokoh-tokoh masyarakat dan memberikan pelatihan terhadap warga sekitar mengenai cara kerja dan kegunaan alat STI. Selain itu, kami juga melakukan beberapa perubahan terhadap alat agar kinerja yang diberikan akan lebih maksimal. Karena pada saat pengujian alat, kami memiliki kendala seperti sensor yang sulit terdeteksi, kemudian kami mencoba mengganti pada bagian sensor, akan tetapi titik  kerusakannya masih sama. Kemudian kami juga mengalami kesulitan dalam mencari atau pembelian sensor di daerah Bali karena kurang lengkapnya alat yang dijual pada toko-toko tersebut, sedangkan sensor yang kami butuhkan hanya dijual diluar daerah Bali, sehingga kami mengalami kesulitan dalam mencari sensor tersebut terlebih lagi dalam jangka waktu yang dekat. Setelah itu, kami juga mengalami kendala pada bagian cat di kerangka alat yang ternyata cat tersebut tidak sesuai dan hasilnya tidak maksimal, jadi kami harus melakukan pengecatan kerangka secara ulang.

Peluang keberlanjutan dari project yang kami buat yaitu Smart Trash ITDC (STI) adalah dapat dilihat dari segi sosial alat ini akan memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang betapa pentingnya membuang dan memilah sampah pada tempatnya dan sesuai dengan jenisnya. Selain itu, STI juga dapat membantu pengelola ITDC khususnya seperti pihak pengelola sampah untuk dapat mengelola sampah secara lebih mudah dan tidak perlu lagi memilah secara manual, karena hal tersebut hanya akan memakan waktu dan tenaga yang cukup besar dikarenakan saat ini masih banyak masyarakat yang membuang sampah tidak sesuai golongan sampah, padahal sudah diberikan wadah sampah sesuai golongan jenis sampahnya, misalnya golongan logam, kertas dan plastik. Masyarakat yang awam kesulitan dalam membuang sampah berdasarkan jenisnya, meskipun sudah diberikan perbedaan pada tempat sampah itu baik dalam tulisan maupun melalui warna tempat sampahnya. Beberapa orang juga enggan membuka tutup tempat sampah dikarenakan takut terkontaminasi kuman dari penutup tempat sampah. Hal ini semakin berbahaya bagi lingkungan. Jadi hal ini akan sangat membantu untuk memajukan kembali pariwisata Bali, salah satunya dengan menunjang Kawasan pariwisata ITDC yang bersih dan sehat.

Peluang dari alat ini juga bisa dilihat dari segi ekonomi dengan adanya alat Smart Trash ITDC (STI) dapat membantu mahasiswa untuk berkontribusi dalam bidang industri dan infrastruktur dalam memulihkan pariwisata di Bali, khususnya di kawasan ITDC dikarenakan 2 tahun vakum oleh Covid-19 yang menyebabkan pariwisata di Bali sangat menurun drastis, hingga banyak hotel dan villa serta tempat wisata lainnya juga tidak terurus dengan baik. Dari adanya ide inovasi social project yang kami buat yaitu Smart Trash ITDC diharapkan tidak hanya dapat dikembangkan dari tempat pariwisata khususnya kawasan ITDC saja, tetapi diharapkan dapat berkembang kepada masyarakat desa atau Kelurahan Benoa. Pemilahan sampah dengan “STI” bisa dikembangkan dengan memberikan “POINT” terhadap setiap pengumpulan sampah Anorganik yang sulit terurai. Kemudian dari point tersebut akan bisa ditukarkan dan akumulasikan menjadi “Voucher” yang nantinya dapat ditukarkan dengan sebuah bahan pokok seperti “Beras”. Dengan ini maka ketertarikan masyarakat akan bertambah untuk membantu penanganan sampah yang menumpuk pada TPS yang tidak terpilah. Dampak yang di berikan juga membantu sampah yang telah di tukarkan menjadi voucher akan lebih mudah di kumpulkan dan lebih mudah untuk di alokasikan kepada tempat daur ulang.

Dilihat dari adanya aspek keberlanjutan di segi ekonomi tersebut, pihak pengelola sampah atau kebersihan di Kawasan ITDC pun juga dapat berkolaborasi dengan masyarakat yang khususnya berada di sekitaran Kawasan ITDC dengan adanya kegiatan Plastic Exchange yang dikembangkan oleh masyarakat setempat di Kelurahan Benoa. Plastic Exchange ini bisa dikatakan seperti Bank Sampah pada umumnya, tetapi Plastic Exchange ini adalah suatu kegiatan kemasyarakatan yang berkeinginan mengumpulkan sampah Anorganik kemudian ditukar dengan beras, jadi selain dapat mempermudah pemilahan sampah, Smart Trash ITDC ini juga dapat membantu perkembangan ekonomi masyrakat dan setidaknya ini juga 75% dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

Tonton proses implementasi disini https://youtu.be/B7c26CMdzds

#Innovillage2022 #DigitalUntukSemua
Share post:
Top