Loading...

TEKPEPA (Teknologi Pengering Padi) Dengan Pemanfaatan Dryer Angin

28 Oktober 2020
Telkom University

Projek

  • Judul:TEKPEPA (Teknologi Pengering Padi) Dengan Pemanfaatan Dryer Angin
  • Tanggal:28 Oktober 2020 - 06 Desember 2020
  • Lokasi Sosial Projek:Sumatera Barat, Kabupaten Pasaman, Dua Koto, Simpang Tonang.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University
  • Ketua:Dicki Daudy Muhammad
  • Angota#1:Darwindra
  • Angota#2:Yudha Aji Wiratama S.

SDGs

Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Infrastruktur, Industri dan Inovasi

Share

Deskripsi

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, ada 38 juta penduduk Indonesia di atas 15 tahun yang bekerja di sektor pertanian. Industri pertanian juga menjadi penyumbang PDB terbesar kedua pada tahun 2019. Dengan begitu pertanian merupakan aspek penting yang dimiliki negara ini. Maka untuk terus mendukung industri pertanian diperlukan inovasi-inovasi yang bermanfaat, baik dalam lingkup skala besar maupun dalam lingkup skala kecil seperti desa. Salah satu desa yang dikenal sebagai pusat pertanian adalah Desa Mangkumang, dengan lokasi petunjuk yang dapat diakses di (https://goo.gl/maps/4sYvFochRPkCounA6). Berdasarkan laporan desa survey BPS tahun 2018, luas wilayah yang dimiliki Desa Mangkumang adalah sekitar 161,08 km² atau 44,67% dari luas wilayah Kecamatan Duo Koto. Jarak dari Kantor Kepala Desa ke Kantor Kabupaten adalah 63 km, dan ke Ibukota Provinsi adalah 233 km. Sekitar 90% penduduknya bekerja sebagai petani baik secara langsung maupun tidak langsung. Lalu jumlah penduduk yang disasar dapat terbantu berjumlah 300 orang bekerja sebagai petani padi. Komoditas pertanian yang paling banyak ditanam adalah padi, lalu disusul jagung dan sereh. Dengan karakteristik desa yang ada, maka terdapat peluang inovasi yang dapat diterapkan di Desa Mangkumang.

Keresahan utama dari petani di desa adalah mereka tidak mampu mengeringkan hasil padi yang dipanen dikarenakan cuaca hujan yang tidak mendukung untuk pengeringan padi. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi yang dapat mengakomodir masalah petani ini. Inovasi tersebut dinamakan TEKPEPA atau Teknologi Pengering Padi. Mesin ini diyakini dapat membantu mengatasi permasalahan dengan memberikan kemampuan agar petani dapat mengeringkan hasil panen tanpa bantuan matahari sebagai pengering. Penerapan mesin yang sejenis juga pernah dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Hasil yang didapat adalah petani dapat mengeringkan panen lebih cepat dari waktu biasanya dalam jumlah yang besar. Pada kondisi normal, petani biasa mengeringkan padi selama tiga hari, namun dengan menggunakan mesin, petani hanya membutuhkan waktu enam jam untuk mengeringkan dengan volume panen yang sama. Namun kelemahan dari mesin ini adalah tidak adanya unsur digitalisasi. Oleh karena itu kami berinovasi untuk menambahkan suatu sistem digital yang dapat memantau kinerja mesin seperti laporan bulanan kinerja mesin, status bahan bakar mesin, hingga monitoring keadaan fisik mesin. 

DESKRIPSI

Dengan latar belakang kondisi ini maka Tekpepa dibuat, Tekpepa adalah mesin pengering pertanian yang memanfaatkan energi panas yang bersumber dari bahan bakar biomass seperti sekam padi, kayu kering, batok kelapa, atau batu bara sebagai bahan bakarnya, energi panas kemudian ditarik menggunakan blower (kipas) ke dalam ruang pemanasan. Selanjutnya padi akan diletakan di ruang pemanasan hingga akhirnya gerabah padi akan mengering menjadi bulir padi. Kapasitas yang bisa dikeringkan di Tekpepa mencapai maksimal 1 ton. Pengeringan Tekpepa ini memakan waktu 11-13 jam untuk dikeringkan, sementara pengeringan tradisional pada cuaca biasa memakan waktu 3-5 hari untuk dikeringkan. Pengeringan dengan menggunakan Tekpepa ini diharapkan akan membantu petani meningkatkan kapasitas produksi dan membantu mengatasi masalah yang sejak lama dialami petani di Desa Mangkumang.

KEGIATAN IMPLEMENTASI

Kegiatan implementasi dilakukan selama lima minggu dan menyesuikan dengan ketentuan timeline yang diberikan panitia Innovillage. Hasil implementasi yang diterapkan sesuai dengan KPI (Key Performance Index) yang kami sasar, walaupun dalam beberapa situasi dalam masa implementasi tersebut ditemukan sejumlah kendala. Kendala terbesar yang ditemui adalah sulitnya menghasilkan desain blueprint yang tepat sebelum merancang Tekpepa. Hal ini terjadi karena adanya miskonsepsi pada saat merumuskan proposal lomba Innovillage, bahwa struktur pembuatan diyakini tim akan dapat berhasil. Namun pada saat realisasi, rancangan awal tersebut sangat bertolak belakang dengan teori mesin pengering. Untuk menyiasati masalah tersebut, tim melakukan riset ekstensif ke berbagai sumber, mulai dari penjual mesin pengering konvensional, riset pertanian Badan Pasca-Panen (BPP) ataupun melakukan observasi empiris terhadap mesin pengering. Dan pada akhirnya, setelah melalui proses validasi hasil KPI, maka target goals tim tercapai.

KESAN DAN PESAN

Dalam tulisan ini kami akan memberikan kesan di dua kondisi, dimana kesan pertama pada saat penyusunan proposal dan kondisi kedua yaitu pada saat event Innovillage berlangsung.

Dalam proses penyusunan proposal, hal yang paling berkesan dan membuat kami tidak mudah melupakannya adalah ketika proposal belum selesai pada hari terakhir pengumpulan. Kami telah berfikir pesimis terhadap event ini dan sempat berfikir untuk tidak melanjutkan pembuatan proposal, tetapi waktu itu kami berfikir ketika kami tidak melanjutkannya, maka sebagian proposal yang sudah kami buat akan sia-sia. Akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkannya dan berfikir bahwa yang penting proposal selesai dan di submit. Singkat cerita, proposal pun selesai beberapa jam sebelum batas waktu pengumpulan, dan kami segera mengunggah proposal ke sistem yang telah diberikan, tetapi sialnya website dari pengumpulan tidak bisa di akses karena server-nya lagi bermasalah, mungkin hal ini di sebabkan karena banyaknya pengakses. Dan akhirnya kami sudah pasrah bahwa event ini tidak akan bisa kami ikuti. Kemudian, salah satu anggota tim ternyata tetap menunggu website dan masih punya harapan kami bisa mengunggah proposal. Dan akhirnya setelah menunggu, proposal bisa di unggah dan dikirimkan. Keesokan paginya, ada informasi bahwa pengumpulan proposal di perpanjang. Pada saat itu, kami merasa sedikit kecewa karena teryata ada perpanjangan, karena posisinya kami sudah mengumpulkan proposal yang kami anggap proposal yang dikumpulkan itu belum sepenuhnya seperti yang kami inginkan dan masih banyak kekurangannya. Dan yang paling berkesan yaitu pada hari H pengumuman 100 proyek yang didanai, dimana ternyata proposal kami lolos dan akan menjalankan proyek sosial.

Kemudian, pada proses menjalankan Innolvillage, hal yang berkesan buat kami adalah ketika berinteraksi langsung dengan warga desa tempat kami melaksanakan sosial proyek. Dimana pada saat itu kami merasakan bagaimana berdiskusi dengan beberapa masyarakat, berdiskusi dengan orang bengkel yang akan membantu kami menjalankan sosial proyek ini, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana sistem di desa tersebut. Kemudian, selama proses berlangsung kami juga mendapat ilmu-ilmu baru, seperti bagaimana berdiskusi yang baik dengan warga, bagaimana mereka melakukan pengeringan hasil panen, dan apa yang mereka lakukan setelah panen selesai dan sebagainya. Dan mungkin hal yang paling berkesan buat kami adalah ketika proses implementasi berlangsung, dimana kami merasakan rasa gotong royong yang tinggi di antara masyarat, dan rasa antuisias masyarakat terhadap sosial proyek ini.

Berikut link video dokumentasinya


Top