Loading...

Teknologi IoT untuk Meningkatkan Produktivitas Jamur Tiram

01 November 2024
Universitas Garut

Projek

  • Judul:Teknologi IoT untuk Meningkatkan Produktivitas Jamur Tiram
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, KABUPATEN GARUT, BANYURESMI, SUKA SENANG.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Garut
  • Ketua:Farid Fadila
  • Angota#1:Farid Fadila, Mila Nurfadilah, Risma Puspita Sari

SDGs

Kesetaraan Gender Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Share

Deskripsi

B UDIDAYA jamur tiram di Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, sejak lama menghadapi kendala besar. Suhu dan kelembapan kumbung sering berubah-ubah, sulit dijaga stabil, dan berimbas pada kualitas jamur. Hasil panen pun tidak konsisten: jamur berukuran kecil, mudah rusak, bahkan gagal panen kerap terjadi. Pendapatan petani menjadi tidak menentu, berkisar antara tujuh hingga sebelas juta rupiah per bulan, padahal usaha ini melibatkan banyak pekerja, terutama perempuan. Menjawab persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Garut menggagas MycoSmart, inovasi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengontrol lingkungan budidaya jamur tiram. Sistem ini menggabungkan sensor DHT22, mikrokontroler ESP32, dan layar Nextion HMI, yang mampu memantau suhu serta kelembapan secara real-time. Data tersimpan di platform cloud Antares dan bisa diakses lewat smartphone. MycoSmart juga dilengkapi sistem penyiraman otomatis yang aktif ketika kondisi tidak ideal, sehingga petani dapat menjaga stabilitas lingkungan kumbung dengan lebih presisi. Fitur utama MycoSmart adalah fleksibilitas pengoperasian. Ada tiga mode yang bisa dipilih: otomatis, jadwal, dan manual. Pada mode otomatis, pompa air menyala ketika suhu dan kelembaban melewati ambang batas, lalu berhenti ketika kembali normal. Mode jadwal memungkinkan petani mengatur penyiraman di jam tertentu menggunakan Real-Time Clock. Mode manual memberi kendali penuh hanya dengan menekan tombol on atau off. Semua data ditampilkan di layar LCD maupun aplikasi mobile yang dikembangkan khusus agar mudah dipahami petani. Proses implementasi dilakukan bertahap. Tim memulai dengan survei kebutuhan petani, lalu mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak. Setelah pengujian, sensor dikalibrasi untuk memastikan akurasi. Data kemudian diintegrasikan ke Antares agar bisa dipantau jarak jauh. Tahap berikutnya, tim memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat. Demonstrasi cara kerja sistem dilakukan secara langsung, dan para petani diajak mencoba aplikasi mobile yang sudah terhubung dengan sensor di kumbung jamur. Hasilnya cukup mengesankan. Produktivitas jamur tiram meningkat hingga 200 persen, dari rata-rata 50 kilogram menjadi 150 kilogram per siklus panen. Penyiraman otomatis berbasis sensor mengurangi penggunaan air hingga 50 persen, sehingga lebih hemat sekaligus ramah lingkungan. Pendapatan petani pun diperkirakan naik antara 50 hingga 100 persen dalam enam sampai dua belas bulan sejak sistem diterapkan. Lebih dari sekadar peningkatan teknis, MycoSmart juga membawa dampak sosial. Otomatisasi pekerjaan berat membuat perempuan yang sebelumnya terbatas pada tugas manual kini bisa berperan lebih aktif dalam manajemen budidaya. Data menunjukkan keterlibatan pekerja perempuan mencapai 55 persen dari total tenaga kerja. Inovasi ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs nomor 5 tentang kesetaraan gender dan nomor 8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Tim mahasiswa membagi peran sesuai keahlian— dari perancang sistem, pemrogram, hingga desainer antarmuka. Mereka rutin berkonsultasi dengan dosen pembimbing, berdiskusi dengan perangkat desa, dan melibatkan petani dalam uji coba. Dukungan Telkom Indonesia melalui platform Antares juga memastikan sistem bekerja stabil. Sinergi ini memperlihatkan bagaimana teknologi, akademisi, masyarakat, dan perusahaan dapat bergerak bersama untuk solusi berkelanjutan.

Top