Loading...

Teknologi Hijau Menyalakan Harapan Desa Wisata Plosokuning

01 November 2024
Universitas Gadjah Mada

Projek

  • Judul:Teknologi Hijau Menyalakan Harapan Desa Wisata Plosokuning
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, SLEMAN, TURI, PLOSOKUNING.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Gadjah Mada
  • Ketua:Rizqi Dian Anggara
  • Angota#1:Rizqi Dian Anggara, Danastri Dana, Faisal Ilhan Ajie Saputra

SDGs

Energi Bersih dan Terjangkau Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan Penanganan Perubahan Iklim

Share

Deskripsi

DESA Plosokuning di Sleman, Yogyakarta, pernah dikenal sebagai sentra produksi salak yang makmur. Namun, letusan Merapi pada 2010 mengubah wajah desa itu. Lahan subur yang dulu menopang perekonomian warga rusak parah. Bertahun-tahun masyarakat berusaha bangkit, salah satunya dengan mengembangkan potensi desa wisata. Susur sungai di aliran Nyoo dan Kedung Kuning, edukasi salak, hingga seni gamelan perlahan menarik minat pengunjung. Meski begitu, desa ini belum memiliki identitas yang benar-benar berbeda dari desa wisata lain. Kebutuhan akan daya tarik unik mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada untuk menginisiasi proyek bertajuk Pemberdayaan Desa Wisata Plosokuning: Instalasi Teknologi Hijau Sebagai Daya Tarik Eduwisata Berbasis Energi Baru Terbarukan. Proyek ini tidak sekadar menambah fasilitas, melainkan membangun simbol baru desa wisata melalui inovasi energi terbarukan. Solusi yang ditawarkan berupa instalasi kincir air atau pikohidro yang mampu menghasilkan listrik. Ide ini lahir dari kondisi sungai yang menjadi jantung wisata Plosokuning. Dengan memanfaatkan aliran air, kincir dirancang menghasilkan daya sekitar 200 watt. Listrik itu kemudian disalurkan untuk penerangan jalur wisata susur sungai dan fasilitas umum seperti toilet. Bagi wisatawan, keberadaan kincir bukan hanya infrastruktur pendukung, tetapi juga sarana edukasi tentang energi hijau. Perjalanan mewujudkan ide tersebut tidak selalu mulus. Tim harus berkali-kali mengubah rancangan. Mereka bahkan sempat kesulitan mencari komponen gir besar untuk poros penggerak. Alih-alih menyerah, mereka menyulap drum besi menjadi pengganti. Komponen elektronis pun dirangkai: generator untuk menghasilkan listrik DC, inverter untuk mengubah menjadi AC, lalu disimpan ke dalam aki. Dari situ, listrik siap didistribusikan. Uji coba menunjukkan hasil menggembirakan. Kincir mampu menyalakan lampu dengan stabil, memberikan penerangan di titik-titik yang sebelumnya gelap. Namun, tantangan datang dari luar. Cuaca ekstrem di Yogyakarta memaksa tim membongkar sementara instalasi agar tidak rusak diterpa hujan deras. Meski begitu, keberhasilan uji coba sudah cukup membuktikan bahwa ide ini layak diteruskan. Selain kincir air, proyek ini juga meliputi pembangunan website, pembuatan katalog dan brosur wisata, hingga penambahan fasilitas seperti gapura kebun salak dan ayunan untuk menarik wisatawan keluarga. Seluruh langkah itu diarahkan untuk memperkuat identitas desa sebagai destinasi wisata hijau berbasis komunitas. Dampak sosial mulai terlihat. Penerangan yang lebih baik meningkatkan kenyamanan wisatawan. Identitas baru sebagai desa wisata berteknologi hijau menambah nilai jual Plosokuning. Masyarakat setempat pun menerima inovasi ini dengan baik, karena manfaatnya nyata dan langsung dirasakan. Dengan anggaran lebih dari 21 juta rupiah, proyek ini berhasil memadukan kreativitas, kearifan lokal, dan teknologi sederhana. Plosokuning kini tidak hanya dikenal karena sungai dan salaknya, tetapi juga karena keberanian warganya mencoba hal baru.

Top