Teknologi dan Harapan Baru Nelayan Seraya Timur
01 November 2024
Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia
Projek
- Judul:Teknologi dan Harapan Baru Nelayan Seraya Timur
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:BALI, KARANGASEM, KARANGASEM, SERAYA TIMUR.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia
- Ketua:I Gede Mardiana Putra
- Angota#1:I Gede Mardiana Putra, I Gusti Ngurah Tsaita Jockey Suputra, Dewa Made Candra Andrika Putra
SDGs
Kesetaraan Gender Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan EkonomiShare
Deskripsi
MENGANDALKAN laut sebagai sumber hidup bukan perkara mudah. Nelayan di Desa Seraya Timur, Karangasem, Bali, selama ini masih menggunakan cara tradisional untuk mengeringkan ikan. Proses yang memakan waktu hingga empat hari, sangat bergantung pada terik matahari, dan rawan terkena debu serta serangga. Akibatnya, kualitas ikan kering menurun dan harga jual pun kurang bersaing. Kondisi itu perlahan berubah ketika Dryfitech diperkenalkan melalui ajang Innovillage. Inovasi ini menawarkan alat pengering ikan berbasis teknologi Internet of Things (IoT) yang digerakkan tenaga surya. Teknologi ini memungkinkan nelayan mengeringkan ikan secara lebih cepat, higienis, dan tidak lagi bergantung pada cuaca. Bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan, Dryfitech menjadi jawaban nyata atas persoalan klasik yang mereka hadapi. Keunggulan utama Dryfitech terletak pada kemampuannya mengontrol suhu dan kelembapan melalui aplikasi ponsel. Nelayan dapat memantau proses pengeringan secara real-time, bahkan ketika hujan atau mendung. Perangkat ini juga dilengkapi pemanas tambahan serta kerangka berbahan tahan panas, sehingga proses lebih singkat dan hasil ikan kering lebih terjamin mutunya. Namun manfaat Dryfitech tidak berhenti di situ. Kelompok nelayan wanita Akshadha Segara Putri ikut mengembangkan produk turunan berupa abon ikan. Dengan pelatihan pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran digital, mereka mampu menghadirkan produk yang lebih bernilai tambah. Abon ikan ini tidak hanya memperluas pilihan konsumen, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga nelayan. Implementasi Dryfitech dijalankan melalui beberapa tahap. Dimulai dari survei kebutuhan, perbaikan alat, hingga pelatihan penggunaan aplikasi dan alat bantu produksi. Tim mahasiswa pengembang juga menyiapkan kemasan produk yang lebih menarik dan sesuai standar pasar. Tak berhenti di pasar lokal, produk ikan kering dan abon dari Seraya Timur kini sudah melangkah ke platform e-commerce seperti Shopee dan Facebook. Hasilnya terasa nyata. Waktu pengeringan ikan yang sebelumnya 3–4 hari kini bisa dipangkas menjadi hanya 1–2 hari. Efisiensi kerja meningkat hingga 60 persen. Kualitas ikan kering lebih bersih, tahan lama, dan mampu dijual dengan harga lebih tinggi. Nelayan wanita yang awalnya kurang akrab dengan teknologi kini lebih percaya diri, terampil, dan aktif dalam produksi. Dampak positif lain muncul dari sisi lingkungan. Dengan tenaga surya sebagai sumber utama, penggunaan Dryfitech jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan listrik konvensional atau bahan bakar fosil. Bagi masyarakat pesisir, teknologi ini bukan sekadar alat, melainkan simbol pergeseran menuju praktik perikanan yang lebih berkelanjutan. Keberhasilan Dryfitech juga tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah desa, kelompok nelayan pria Wisnu Rejeki, hingga Dinas Kelautan turut memberi dukungan. Sinergi ini memastikan inovasi berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Bahkan, hasil evaluasi menunjukkan potensi besar untuk mereplikasi model Dryfitech ke desa-desa pesisir lain yang menghadapi persoalan serupa.