Solusi Inovatif Mengatasi Banjir dan Meningkatkan Ketahanan Lingkungan
01 November 2024
IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Projek
- Judul:Solusi Inovatif Mengatasi Banjir dan Meningkatkan Ketahanan Lingkungan
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, CIREBON, ASTANAJAPURA, MUNJUL.
Inovator
- Perguruan Tinggi:IAIN Syekh Nurjati Cirebon
- Ketua:Marcella
- Angota#1:Marcella, Nihayatunnur, Nahwa Ashfia Yusuf
SDGs
Kota dan Komunitas yang BerkelanjutanShare
Deskripsi
DESA Munjul di Astanajapura, Kabupaten Cirebon, sering kali terendam banjir. Inovasi bernama PoriCare kemudian dihadirkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat setempat. Mengingat kondisi topografi yang rendah dan berkurangnya daya serap tanah akibat alih fungsi lahan, banjir di desa ini semakin parah. Kondisi ini diperburuk oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah dan sistem resapan air yang baik. Permasalahan tersebut juga dirasakan oleh sekolah-sekolah di wilayah tersebut, seperti MTs dan MA Nurul Huda, yang kerap tergenang air setiap kali hujan deras. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim mahasiswa dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengembangkan aplikasi PoriCare, yang berfokus pada penerapan teknologi biopori untuk mengelola sampah organik sekaligus meningkatkan daya serap tanah. PoriCare tidak hanya memperkenalkan konsep biopori sebagai solusi untuk permasalahan resapan air, tetapi juga menghadirkan teknologi sensor untuk memantau kadar air tanah secara real-time. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan peringatan dini tentang potensi banjir dan mengambil tindakan mitigasi yang tepat waktu. Langkah pertama dalam implementasi inovasi ini dimulai dengan koordinasi bersama pihak desa, sekolah, dan mitra lainnya untuk menentukan lokasi strategis untuk pembuatan lubang biopori. Penyuluhan juga dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konservasi air dan manfaat biopori. Setelah itu, masyarakat diajari cara membuat biopori dan memanfaatkan bahan organik seperti daun kering dan sisa makanan yang dapat mempercepat proses peresapan air ke dalam tanah. Penerapan teknologi ini terbukti efektif. Sejak biopori diterapkan di lingkungan sekolah, genangan air yang sebelumnya sering mengganggu proses belajar mengajar kini berkurang signifikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa air meresap lebih cepat, terutama pada hujan dengan intensitas rendah hingga sedang. Meskipun pada hujan dengan intensitas tinggi, air masih membutuhkan waktu lebih lama untuk meresap, hal ini disebabkan oleh adanya endapan tanah yang menghalangi aliran air. Namun, secara keseluruhan, dampak positif dari penggunaan biopori sangat terasa bagi masyarakat, terutama di lingkungan sekolah. Aplikasi PoriCare juga menjadi fitur penting dalam mempermudah pengelolaan biopori secara lebih terstruktur. Dengan adanya sensor untuk memantau kadar air dan peta lokasi biopori, masyarakat dapat mengetahui kapan harus menambahkan material organik untuk mendukung aktivitas mikroba dalam lubang biopori. Aplikasi ini diharapkan dapat mempercepat proses penerapan biopori secara luas di daerah lain, dengan mengintegrasikan teknologi yang ramah lingkungan seperti panel surya sebagai sumber energi utama. Kolaborasi antara pihak desa, sekolah, dan berbagai mitra lainnya menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Melalui kerja sama yang solid, masyarakat menjadi lebih peduli terhadap pengelolaan lingkungan dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan kawasan yang lebih tangguh terhadap bencana alam. Selain itu, proyek ini juga membuka peluang bagi keberlanjutan sosial dan ekonomi dengan adanya model bisnis berbasis social entrepreneurship, di mana keuntungan dari penjualan alat sensor biopori digunakan untuk mendukung pengembangan aplikasi dan keberlanjutan proyek.