Loading...

Produksi dan Implementasi Teknologi IoT Pemantauan Benih pada Petani Padi

04 Oktober 2021
Sekolah Tinggi Teknologi YBSI Tasikmalaya

Projek

  • Judul:Produksi dan Implementasi Teknologi IoT Pemantauan Benih pada Petani Padi
  • Tanggal:04 Oktober 2021 - 28 November 2021
  • Lokasi Sosial Projek:Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya, Singaparna, Sukaasih.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Sekolah Tinggi Teknologi YBSI Tasikmalaya
  • Ketua:Asep Mustopa
  • Angota#1:Yanyan Permana
  • Angota#2:Nur Aprianti

SDGs

Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan Infrastruktur, Industri dan Inovasi

Share

Deskripsi

Dalam kaitan dengan pengembangan suatu komoditas pertanian, benih dan hama penyakit selalu menjadi masalah yang sangat mendasar. Masalah yang selalu muncul adalah terbatasnya ketersediaan benih yang berkualitas dan adanya gangguan hama penyakit. Serangan hama penyakit apabila dalam pengendaliannya kurang tepat, maka dapat menurunkan produktivitas dari tanaman padi. Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Singaparna adalah dengan mengadakan sosialisasi kepada para petani untuk menggunakan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan bambu yang berfungsi untuk menyimpan telur hama kupu-kupu dan hama lainnya, tetapi proses ini masih membutuhkan proses secara manual untuk melihat dan memindahkan daun padi yang terkena hama. Hal ini dimaksudkan untuk memisahkan antara hama yang merusak dengan hama yang bisa membantu pertumbuhan padi. Proses ini tidak dilaksanakan oleh para petani karena memakan waktu dan membutuhkan ketelitian untuk memilih daun-daun tersebut, sehingga hama yang merusak masih tetap tumbuh dan mengganggu pertumbuhan padi.

Selain itu, hasil pertemuan kami dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Singaparna dan perwakilan petani Desa Sukaasih adalah ditemukannya kekurangan dalam pemantauan pH dan kelembaban tanah pada lahan tanam yang bisa meningkatkan produktifitas tanaman padi. pH dan kelembaban tanah sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, hal ini kami temukan dalam diskusi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Singaparna yang selaras dengan apa yang kami temukan dalam studi literatur. Hal lainnya adalah masalah pada hama burung dan tikus yang mengganggu proses pertumbuhan padi pada masa vegetatife.

Solusi yang kami ambil dari setiap permasalahan yang ada yaitu dengan menggunakan inovasi teknologi IoT (Internet of Things) yang dapat bekerja secara otomatis. Pemantauan tersebut dipantau secara langsung melalui aplikasi, sehingga petani bisa melakukan aksi dengan cepat dan tepat. Data hasil pemantauan tersebut tersimpan pada database sehingga bisa digunakan untuk tolak ukur prediksi keberhasilan panen dan menentukan evaluasi terhadap penanaman benih padi pada masa tanam selanjutnya menggunakan teknologi big data dan Artificial Intelligence (AI).

Koordinasi awal bersama tim Koordinasi awal bersama tim dilaksanakan secara online membahas mengenai pengaturan dan penempatan anggota tim sesuai dengan bahasan pembekalan dan koordinasi TOP 120 Social Project InnoVillage yang menghasilkan timeline pelaksanaan dimulainya kegiatan implementasi yang diawali dengan koordinasi bersama dosen pendamping. Koordinasi awal bersama dosen pendamping (Rudi Hermawan. ST., MOS.) dengan kesimpulan untuk mempersiapkan penetapan pembagian tugas tiap anggota tim, melaksanakan studi literatur dari beberapa sumber dan merancang persiapan pertemuan bimbingan selanjutnya untuk membahas hasil studi literatur. Selain itu, dibahas juga mengenai timeline social project dari periode pertama sampai periode akhir. Pemetaan tugas tim Pemetaan tugas tim dilaksanakan di awal koordinasi dengan dosen pendamping. Untuk pemetaan tugas ini difokuskan untuk periode pertama. Proses pembuatan alat di periode ke-2 dimulai dengan pembelian perangkat kontrol, sensor dan module dilanjut dengan pembuatan casing. Dalam proses pembuatan alat berdasarkan masukan dari dosen pendamping dan ada beberapa perangkat yang menjadi kendala sehingga menghambat proses perkembangan dalam pembuatan alat.

Maka dari itu kami membeli kembali perangkat baru dan yang berbeda. Pada awalnya menggunakan modul GSM 800L, dikarenakan daya dari modul ini kecil sehingga tidak bisa mendapatkan hasil yang maksimal, maka struktur perangkat kembali kami sesuaikan sesuai kebutuhan dan yang kompatibel dengan mikontroler Nodemcu agar bisa terkoneksi langsung ke internet.Pada periode ini kami melakukan implementasi dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Karena proses pembuatan alat sudah kami selesaikan, maka kami buktikan dengan guidebook/penggunaan alat yang kami ciptakan. Hasil implementasi yang didapatkan adalah luas lahan sawah yang digunakan seluas 70 m² dengan kedalaman lumpur lahan sawah sedalam 30 cm dengan kondisi lahan sawah membuat pasokan air lebih mudah, jarak lahan sawah ke pemukiman tidak terlalu jauh.

https://youtu.be/qzNj7MVP3oU

Proses pembuatan alat di periode ke-2 dimulai dengan pembelian perangkat kontrol, sensor dan module dilanjut dengan pembuatan casing. Dalam proses pembuatan alat berdasarkan masukan dari dosen pendamping dan ada beberapa perangkat yang menjadi kendala sehingga menghambat proses perkembangan dalam pembuatan alat. Maka dari itu kami membeli kembali perangkat baru dan yang berbeda. Pada awalnya menggunakan modul GSM 800L, dikarenakan daya dari modul ini kecil sehingga tidak bisa mendapatkan hasil yang maksimal, maka struktur perangkat kembali kami sesuaikan sesuai kebutuhan dan yang kompatibel dengan mikontroler Nodemcu agar bisa terkoneksi langsung ke internet.

Pada periode ini kami melakukan implementasi dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Karena proses pembuatan alat sudah kami selesaikan, maka kami buktikan dengan guidebook/penggunaan alat yang kami ciptakan. Hasil implementasi yang didapatkan adalah luas lahan sawah yang digunakan seluas 70 m² dengan kedalaman lumpur lahan sawah sedalam 30 cm dengan kondisi lahan sawah membuat pasokan air lebih mudah, jarak lahan sawah ke pemukiman tidak terlalu jauh. Di periode ke-3 ini, implementasi alat dilaksanakan secara langsung di lahan sawah dengan kondisi lahan pasca panen dan bisa dimulai pembenihan (penyemaian) sebelum kami melakukan penyemaian benih, kami melakukan pemantauan lahan sawah dengan menggunakan alat yang kami bangun. Pemantauan yang kami cari yaitu kondisi pH dan kelembaban tanah, produktivitas tanaman padi lebih bagus dengan kondisi pH tanah berada di nilai 6 – 7. Pemantauan yang dihasilkan dari alat menyatakan keadaan lahan sawah berada di kondisi tanah asam dan kelembaban berada di kondisi normal. Untuk pemantauannya kami membangun web dan sudah bisa diakses secara public di meniti.id/innovillage/ 

Intip keseruannya pada video dokumentasi berikut

Top