Loading...

Menjaga Nelayan Agar Tetap Aman Saat Melaut

01 November 2024
Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Projek

  • Judul:Menjaga Nelayan Agar Tetap Aman Saat Melaut
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:BALI, KARANGASEM, KARANGASEM, SERAYA TIMUR.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia
  • Ketua:I Nyoman Swandita
  • Angota#1:I Nyoman Swandita, I Wayan Wiryanata

SDGs

Energi Bersih dan Terjangkau Menjaga Ekosistem Laut

Share

Deskripsi

SETIAP kali perahu nelayan Desa Seraya Timur, Karangasem, berangkat ke tengah laut, selalu ada doa panjang yang terucap. Laut yang mereka hadapi bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga penuh risiko. Cuaca ekstrem, ombak besar, hingga badai petir sering kali menjadi ancaman nyata. Tak jarang kabar nelayan hilang saat melaut terdengar, meninggalkan keluarga dalam kecemasan. Minimnya peralatan keselamatan, tanpa GPS atau alat komunikasi darurat, membuat para nelayan bekerja dengan rasa waswas. Berangkat dari persoalan itu, sekelompok mahasiswa yang menamakan diri tim Navilatech mencoba menawarkan jawaban. Mereka mengembangkan sistem keselamatan nelayan berbasis Internet of Things (IoT) yang sederhana namun fungsional. Ide dasarnya jelas: memberikan alat yang bisa melacak posisi nelayan secara real-time, mengirim sinyal darurat, dan tetap bisa bertahan tanpa listrik konvensional. Navilatech dirancang dengan tiga fitur utama. Pertama,  GPS tracker  untuk mengetahui posisi kapal setiap saat. Kedua, tombol SOS yang dapat mengirim sinyal bahaya ke pihak keluarga, tim penyelamat, maupun sesama nelayan. Ketiga, panel surya sebagai sumber energi, agar perangkat bisa tetap bekerja meski nelayan berada jauh dari daratan. Kombinasi itu menjadikan alat ini berbeda dari sistem keselamatan lain yang umumnya masih bergantung pada radio konvensional dan biaya tinggi. Perjalanan mewujudkan alat ini tidak singkat. Tim mahasiswa merancang skema, membeli komponen, lalu merakitnya hingga melakukan uji coba di laboratorium dan laut. Nelayan kelompok Wisnu Rejeki menjadi mitra sekaligus penguji utama. Mereka diberi pelatihan bagaimana menggunakan aplikasi di ponsel untuk memantau posisi kapal dan cara menekan tombol darurat saat keadaan genting. Uji coba menunjukkan sinyal darurat bisa terkirim dalam waktu rata-rata sepuluh detik. Meski terdapat deviasi posisi sekitar seratus meter, alat ini tetap dianggap membantu, terutama bagi keluarga yang menunggu kabar di darat. Dampaknya terasa langsung. Para nelayan mengaku lebih tenang saat melaut karena ada sistem yang bisa memantau keberadaan mereka. Keluarga juga merasa lega karena dapat mengetahui posisi kapal. Tak hanya itu, proyek ini membawa nilai tambah ekonomi. Bagi Telkom Indonesia, mitra pendukung inovasi, sistem ini membuka peluang layanan baru berbasis IoT untuk sektor kelautan, termasuk kemungkinan paket langganan pemantauan kapal. Tentu ada kendala. Keterbatasan jaringan komunikasi di laut membuat baterai cepat habis karena alat terus berusaha mengirim sinyal. Namun tim sudah menyiapkan pengembangan berikutnya, seperti sistem manajemen daya yang lebih efisien dan analisis cuaca otomatis. Untuk keberlanjutan, pola koperasi nelayan ditawarkan. Alih-alih membeli langsung, nelayan bisa menyewa alat dengan paket mingguan, bulanan, atau tahunan. Harga satu unit Navilatech saat ini sekitar empat juta rupiah. Angka yang memang cukup tinggi bagi nelayan tradisional, tetapi skema sewa melalui koperasi membuatnya lebih terjangkau. Dengan lebih dari 2,7 juta nelayan di Indonesia, potensi pasar alat ini sangat besar. Navilatech membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa membawa perubahan besar. Di tangan para mahasiswa dan dukungan masyarakat, teknologi bukan lagi sekadar istilah canggih, melainkan nyata menjaga nyawa di laut. Di Seraya Timur, setiap keberangkatan perahu kini diiringi rasa aman baru, bukan hanya doa

Top