Membuka Jalan Baru Distribusi Bansos di Sukamakmur
01 November 2024
Universitas Pakuan
Projek
- Judul:Membuka Jalan Baru Distribusi Bansos di Sukamakmur
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BOGOR, CIOMAS, SUKAMAKMUR.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Pakuan
- Ketua:Benedict Hubert Nathanael
- Angota#1:Benedict Hubert Nathanael, Nazla Primanita Gunawan, Raka Putra
SDGs
Menghapus Kemiskinan Mengakhiri Kelaparan Konsumsi dan Produksi yang BertanggungjawabShare
Deskripsi
DI Desa Sukamakmur, Kabupaten Bogor, pembagian bantuan sosial (bansos) selalu menghadapi persoalan klasik: data penerima yang tumpang tindih, antrean panjang, hingga keluhan warga yang merasa tidak terlayani dengan adil. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 13 ribu jiwa dan penerima bansos yang terus meningkat tiap tahun, pemerintah desa dituntut mencari cara baru agar distribusi bisa lebih transparan dan tepat sasaran. Menjawab tantangan itu, sekelompok mahasiswa Universitas Pakuan yang tergabung dalam Tim Avancer menghadirkan Saveris (Smart Aids Social Verification System). Aplikasi berbasis QR Code ini dirancang khusus untuk memudahkan proses verifikasi penerima bansos. Warga tak perlu lagi membawa setumpuk fotokopi KK dan KTP. Cukup menunjukkan kode unik yang dipindai perangkat desa, bantuan pun bisa langsung diterima. Saveris tidak hanya mengganti prosedur manual yang merepotkan, tetapi juga membawa sejumlah fitur inovatif. Sistem pelacakan paket, notifikasi otomatis, hingga layanan pengaduan terintegrasi membuat distribusi lebih transparan. Aplikasi ini juga ramah pengguna, dengan tampilan ikon besar dan navigasi sederhana yang memudahkan warga lanjut usia sebagai kelompok penerima terbesar. Proses implementasi dilakukan bertahap. Pada periode awal, tim merancang antarmuka sederhana sembari melakukan koordinasi intensif dengan perangkat desa. Periode berikutnya fokus pada pengembangan aplikasi untuk perangkat Android versi terbaru, meski kompatibilitas dengan ponsel lama masih menjadi tantangan. Sosialisasi pun digelar, menarik kehadiran lebih dari 65 warga yang antusias mencoba sistem baru ini. Puncaknya, pada 27 Februari 2025, tim menyerahkan sebuah tablet kepada perangkat desa sebagai sarana utama pengelolaan bansos. Tablet ini memudahkan petugas mencari data warga, bahkan hingga tingkat RT dan RW, sehingga proses input menjadi lebih cepat dan terpusat. Tim juga menjadwalkan pemantauan selama tiga bulan untuk memastikan aplikasi berfungsi optimal sesuai dinamika desa. Dampak nyata langsung terasa. Distribusi yang dulu bisa memakan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Kesalahan data penerima berkurang drastis, dari 15 persen menjadi hanya 2,5 persen. Biaya administrasi pun turun hingga 70 persen, sementara penggunaan kertas berkurang 95 persen, mendukung upaya ramah lingkungan. Tak kalah penting, survei menunjukkan 85 persen warga puas dengan sistem baru ini, meningkat signifikan dibanding 60 persen pada metode manual. Saveris juga membawa nilai edukasi. Warga, terutama lansia, mulai terbiasa menggunakan teknologi digital sederhana seperti pemindaian QR Code. Literasi digital meningkat, membuka peluang adaptasi teknologi di bidang lain. Respons warga seperti yang diungkapkan Ibu Ikah Atikah dalam wawancara menegaskan manfaat aplikasi ini, “Bagus sekali, memper - mudah segala sesuatu, juga meringan kan masyarakat. Bagi Tim Avancer, keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi bisa menjawab persoalan mendasar di tingkat desa. Saveris punya peluang besar untuk diperluas ke desa lain, bahkan diintegrasikan dengan sistem nasional. Dengan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, Desa Sukamakmur kini menjadi contoh bagaimana distribusi bansos bisa dilakukan secara lebih adil, efisien, dan