Kandang Pintar yang Menyelamatkan Puyuh Kertamulya
01 November 2024
Universitas Telkom
Projek
- Judul:Kandang Pintar yang Menyelamatkan Puyuh Kertamulya
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BANDUNG BARAT, PADALARANG, KERTAMULYA.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
- Ketua:Riza Aria Komara
- Angota#1:Riza Aria Komara, Niken Wulandari, Lathifah Husnun
SDGs
Menghapus Kemiskinan Mengakhiri Kelaparan Konsumsi dan Produksi yang BertanggungjawabShare
Deskripsi
KEMATIAN 193 ekor burung puyuh pada akhir 2024 menjadi pukulan berat bagi para peternak di Desa Kertamulya, Kabupaten Bandung Barat. Bukan karena wabah penyakit, melainkan akibat kadar amonia yang terlalu tinggi di kandang. Kotoran yang menumpuk tanpa pembersihan teratur menimbulkan gas beracun yang perlahan meracuni hewan-hewan kecil itu. Produksi telur anjlok, semangat peternak menurun, dan potensi ketahanan pangan desa ikut terancam. Dari peristiwa itulah muncul dorongan untuk mencari cara baru dalam memelihara puyuh secara lebih aman dan efisien. Tiga mahasiswa Telkom University yaitu Riza Aria Komara, Niken Wulandari, dan Lathifah Husnun hadir dengan inovasi mereka: Smart Quail Cage, kandang puyuh otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini bukan sekadar alat, melainkan sistem cerdas yang membantu peternak mengelola kandang tanpa harus bekerja terus-menerus secara manual. Pemberian pakan dan air dilakukan otomatis dan merata, sementara sensor amonia dan kelembapan memantau kondisi udara di dalam kandang. Jika terdeteksi gas berbahaya, kipas penyedot otomatis menyala, menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Fitur lainnya tak kalah penting: conveyor sederhana yang mengalirkan kotoran keluar kandang. Dengan cara ini, kebersihan lebih mudah dijaga dan risiko penyakit dapat ditekan. Semua proses itu bisa dipantau lewat aplikasi yang terhubung dengan sistem IoT, sehingga peternak dapat mengetahui kondisi kandang kapan pun. Uniknya, alat ini dibuat dari bahan yang murah dan mudah didapat yaitu paralon, terpal, dan motor DC sehingga bisa ditiru oleh peternak skala kecil. Proses pembuatannya penuh tantangan. Tim sempat menghadapi korsleting listrik, kesalahan kode program, hingga pelampung air yang tidak berfungsi. Namun berkat bimbingan dosen pendamping dan dukungan masyarakat desa, semua kendala berhasil diatasi. Setelah alat siap, mereka melakukan sosialisasi dengan melibatkan UPT Peternakan Padalarang. Para peternak diberi pemahaman tentang pentingnya kebersihan kandang, bahaya amonia, dan cara kerja sistem otomatis ini. Sosialisasi ini disertai demonstrasi langsung agar peternak bisa mencoba teknologi baru tersebut. Hasilnya menggembirakan. Pengetahuan peternak tentang kandang otomatis meningkat signifikan dari 42 persen menjadi 100 persen, dan sebanyak 71 persen peserta tertarik menerapkannya di kandang masing-masing. Manfaat langsung pun mulai terasa. Kandang menjadi lebih bersih, udara lebih segar, dan waktu kerja berkurang. UPT Peternakan serta pemerintah desa memberi apresiasi atas keberhasilan proyek ini yang dinilai efektif membantu peternak lokal. Lebih dari sekadar eksperimen kampus, Smart Quail Cage menjadi bentuk kolaborasi antara teknologi dan kemandirian desa. Dengan biaya rendah dan sistem yang mudah dikembangkan, inovasi ini membuka peluang besar bagi peternakan kecil untuk bertransformasi ke arah digital. Ia bukan hanya menyelamatkan puyuh, tapi juga menumbuhkan kembali harapan bahwa teknologi sederhana bisa menjadi kunci masa depan pangan yang lebih tangguh.