Loading...

Inovasi Teknologi untuk Deteksi Dini Penyakit Paru-paru

01 November 2024
Universitas Telkom

Projek

  • Judul:Inovasi Teknologi untuk Deteksi Dini Penyakit Paru-paru
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, BANDUNG, BOJONGSOANG, BOJONGSOANG.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
  • Ketua:Rezky Maulana
  • Angota#1:Rezky Maulana, Muhammad Iqbal, Julius Matthew

SDGs

Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan Infrastruktur, Industri dan Inovasi

Share

Deskripsi

K UALITAS udara yang buruk menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi tinggi. Di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, masalah kualitas udara menjadi perhatian serius. Meskipun kualitas udara terpantau dalam kategori “Lumayan” dengan nilai AQI 44 pada Oktober 2024, hal ini tetap menunjukkan perlunya perhatian lebih. Udara yang tercemar dapat memicu berbagai masalah pernapasan, seperti bronkitis, asma, hingga pneumonia. Untuk itu, inovasi yang ditawarkan oleh tim mahasiswa Universitas Telkom dapat menjadi solusi yang sangat relevan. Tim ini merancang sebuah alat deteksi dini penyakit paru-paru, khususnya pneumonia, yang dirancang dengan harga terjangkau. Alat ini, yang diberi nama Gyropulmotect, memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dengan sensor gyro untuk mengukur detak jantung dan pergerakan dada. Terutama untuk anak-anak usia 0-5 tahun, alat ini berfungsi sebagai deteksi dini dengan cara yang praktis dan mudah digunakan. Keunggulannya adalah penggunaan sensor gyro yang lebih terjangkau dibandingkan dengan alat medis lain yang sejenis, seperti stetoskop atau perangkat pengukur detak jantung tradisional. Proyek ini bukan hanya sebuah inovasi dalam bidang teknologi, tetapi juga sebuah inisiatif sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi. Setelah menyelesaikan tahapan awal berupa perancangan dan pembuatan prototipe, tim mahasiswa ini berkoordinasi dengan pemerintah desa Bojongsoang untuk melaksanakan implementasi alat tersebut. Implementasi ini tidak hanya melibatkan tim mahasiswa dan dosen pembimbing, tetapi juga kepala desa dan masyarakat setempat yang aktif berpartisipasi dalam menggunakan alat tersebut. Dampak dari implementasi alat ini sangat positif. Masyarakat yang menggunakan alat ini melaporkan peningkatan kesadaran terhadap kesehatan paruparu, terutama di kalangan keluarga yang memiliki anak-anak. Misalnya, Pak Budi, salah seorang warga, mengaku bahwa alat ini membantunya mendeteksi dini pneumonia pada anaknya yang berusia dua tahun. Hal ini sangat mempermudah tenaga kesehatan di puskesmas setempat, karena mereka tidak perlu lagi melakukan pengecekan secara manual, yang biasanya memakan waktu dan tenaga lebih banyak. Secara bisnis, alat ini juga memiliki potensi pasar yang besar. Mengingat semakin banyaknya jumlah penduduk dan meningkatnya polusi udara, permintaan terhadap alat deteksi dini seperti ini diperkirakan akan terus meningkat. Selain itu, alat ini juga dapat diperjualbelikan dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan perangkat medis lainnya, menjadikannya pilihan yang ekonomis bagi keluarga yang ingin memantau kesehatan anak-anak mereka di rumah. Namun, meski alat ini menawarkan solusi inovatif, ada beberapa tantangan yang dihadapi, seperti perlunya pelatihan bagi tenaga kesehatan agar alat ini dapat digunakan dengan efektif. Selain itu, masalah akurasi data yang diperoleh dari penggunaan alat ini juga menjadi perhatian, terutama ketika pasien sulit untuk diam selama pengecekan dilakukan. Meski demikian, tim ini yakin bahwa alat ini memiliki peluang besar untuk berkembang, bahkan bisa menjadi alat rumahan yang dapat diakses oleh masyarakat umum di masa depan. Dengan potensi keberlanjutan yang tinggi, Gyropulmotect tidak hanya memberikan solusi untuk deteksi penyakit paru-paru secara dini, tetapi juga memperkenalkan teknologi yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat. Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi kunci dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat, bahkan di daerah-daerah yang rawan polusi dan kurang akses terhadap perawatan medis yang memadai.

Top