Loading...

Mengubah Limbah Sapi Jadi Sumber Energi Bersih

01 November 2024
Telkom University Purwokerto

Projek

  • Judul:Mengubah Limbah Sapi Jadi Sumber Energi Bersih
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA TENGAH, BANYUMAS, SUMBANG, KARANGGINTUNG.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University Purwokerto
  • Ketua:Adithana Dharma Putra
  • Angota#1:Adithana Dharma Putra, Haposan Felix Marcel, Ervan Hapiz

SDGs

Energi Bersih dan Terjangkau Penanganan Perubahan Iklim Menjaga Ekosistem Darat

Share

Deskripsi

SETIAP hari, kandang komunal di Desa Karanggintung, Banyumas, menghasilkan tumpukan kotoran sapi. Dari 54 ekor sapi, rata-rata 10 kilogram kotoran keluar per ekor setiap harinya. Sebelum ada pengelolaan yang tepat, hanya sekitar 60 persen kotoran yang terkumpul. Sisanya mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tak sedap. Kondisi ini bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga ancaman bagi kesehatan masyarakat. Melihat kenyataan itu, sekelompok mahasiswa Telkom University Purwokerto berinisiatif menghadirkan solusi berbasis teknologi. Mereka menamai inovasi ini Si Perapih Bio. Gagasannya sederhana: mengubah masalah limbah menjadi energi yang bermanfaat. Namun, pelaksanaannya membutuhkan pendekatan yang terukur, terutama dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT). Tim merancang sistem yang menghubungkan sensor gas MQ-4 dengan mikrokontroler ESP32. Alat ini mampu memantau kadar metana dari proses fermentasi biogas secara real-time. Data yang terkumpul kemudian ditampilkan melalui platform ThingSpeak dan aplikasi berbasis Laravel. Dengan pemantauan digital, kondisi fermentasi bisa dijaga lebih stabil. Hasilnya, produksi biogas yang semula 0,76 meter kubik per hari dari 100 kilogram kotoran meningkat menjadi 0,8 hingga 1,5 meter kubik per hari. Angka itu menunjukkan lonjakan efisiensi hingga 90 persen. Keberhasilan tidak hanya datang dari kecanggihan alat. Tim juga melibatkan masyarakat sejak awal. Sebanyak 23 kepala keluarga mengikuti pelatihan penggunaan sistem ini. Hasil survei menunjukkan 80 persen peserta memahami cara mengoperasikan perangkat dan merawat reaktorbiogas. Bahkan, enam keluarga kini sudah sepenuhnya beralih menggunakan biogas untuk memasak dan penerangan rumah. Partisipasi aktif ini membuktikan bahwa inovasi tidak bisa berjalan tanpa dukungan warga. Infrastruktur pendukung pun turut dipasang. Panel surya berkapasitas 100 watt kini menjadi sumber daya mandiri untuk pompa air dan sistem semprotan otomatis yang menyalurkan kotoran ke reaktor. Dengan energi matahari, ketergantungan pada listrik konvensional berkurang hingga 80 persen. Selain itu, sisa fermentasi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, menambah nilai ekonomi bagi petani setempat. Manfaat proyek ini terasa di banyak sisi. Dari sisi lingkungan, emisi gas metana berkurang sekitar 10 ton CO2 ekuivalen per tahun. Dari sisi ekonomi, satu sistem untuk 10 ekor sapi mampu menghemat biaya hingga Rp24,5 juta per tahun, termasuk penggantian LPG rumah tangga, efisiensi tenaga kerja, dan tambahan hasil pertanian. Dari sisi sosial, warga desa tidak hanya memperoleh energi bersih, tetapi juga keterampilan baru dalam mengelola teknologi. Meski begitu, jalan yang ditempuh tidak selalu mulus. Tantangan muncul dari keterbatasan literasi digital para peternak serta distribusi infrastruktur yang belum merata. Namun, semangat kolaborasi antara tim mahasiswa, dosen pendamping, pemerintah desa, dan masyarakat membuat hambatan ini bisa diatasi sedikit demi sedikit. Si Perapih Bio bukan sekadar proyek akademis. Ia menjadi bukti bahwa teknologi sederhana yang dipadukan dengan semangat gotong royong bisa memberi perubahan nyata. Dengan investasi awal sekitar Rp21 juta, sistem ini mampu memberikan pengembalian sosial dan lingkungan 1,46 kali lipat hanya dalam setahun. Lebih dari itu, ia membuka peluang replikasi ke ratusan desa lain yang menghadapi persoalan serupa.

Top