SmartMangrove: Platform Konservasi Ekowisata Mangrove dan Optimalisasi Produk Olahan Mangrove
Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki banyak daerah yang bersinggungan dengan laut. Wilayah laut Indonesia memiliki luas sekitar 3,25 juta km2 atau 62% dari total luas wilayah negara Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2020). Perubahan iklim dapat mengancam lingkungan pesisir dan laut yaitu kenaikan permukaan air laut, banjir, abrasi, serta kerusakan ekosistem pesisir dan laut (Rangkuti, 2017). Konsep mitigasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan mempertahankan ekosistem untuk menyerap karbon dengan melakukan upaya konservasi ekosistem pesisir (Wahyudi A.J. et al., 2017). Ekosistem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki potensi besar dalam penyerapan CO2 dari atmosfer. Secara ekologis, fisik, dan ekonomis, ekosistem mangrove merupakan habitat biota laut, pencegah abrasi pantai, dan dapat dikembangkan menjadi ekowisata. Oleh karena itu, konservasi mangrove sangat penting dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim dan penunjang ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan mangrove. Nagari Sungai Pinang merupakan salah satu desa wisata bahari yang memiliki ekowisata mangrove. Ekowisata mangrove di Sungai Pinang memerlukan teknologi digital untuk melaporkan perkembangan mangrove yang telah ditanam oleh wisatawan dan membantu memantau perkembangan mangrove yang telah ditanam. Masyarakat telah memanfaatkan mangrove menjadi produk olahan batik mangrove yang saat ini telah terhenti karena desain batik cenderung monoton, pemasaran produk belum optimal, dan peralatan penunjang kurang memadai, serta terjadinya abrasi di muara sungai. Platform SmartMangrove hadir sebagai solusi dari permasalahan di atas, dengan memadukan konsep pelestarian lingkungan, edukasi, ekonomi, wisata, dan digitalisasi. SmartMangrove merupakan platform untuk monitoring perkembangan mangrove, edukasi mangrove, kampanye konservasi mangrove, dan e-commerce untuk penjualan bibit mangrove dan pemasaran batik mangrove. Proyek sosial ini membantu mitra dalam melaporkan perkembangan mangrove yang sudah ditanam kepada wisatawan atau pembeli bibit, membantu wisatawan memantau perkembangan mangrove yang telah ditanam, memasarkan bibit mangrove dan produk batik mangrove untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Secara umum, berikut langkah-langkah yang akan dilakukan pada setiap periode dalam tahap implementasi social project yang telah disusun:
1. Periode Awal (10 Oktober – 24 Oktober 2022)
a) Penyediaan alat dan bahan seperti perlengkapan membatik dan menanam mangrove
b) Koordinasi awal ke pemerintah desa dan mitra
c) Pembukaan dan sosialisasi program Innovillage
d) Survei dan akuisisi basis data dan pemetaan mangrove
2. Periode Pertengahan (25 Oktober – 8 November 2022)
a) Perancangan struktur database SmartMangrove
b) Merancang platform SmartMangrove
c) Sosialisasi dan pelatihan batik mangrove
d) Pembibitan mangrove bersama mitra dan masyarakat
3. Periode Akhir (9 November – 28 November 2022)
a) Penanaman mangrove bersama pemerintah desa, mitra terkait, dan masyarakat desa
b) Pelatihan penggunaan dan pemasaran batik mangrove melalui SmartMangrove
c) Launching dan lokakarya Platform SmartMangrove
Tonton video keseruannya disini : https://tinyurl.com/VideoLaporan1PERISAI