Teknologi Sederhana yang Menjaga Napas dan Tumbuh Kembang Anak
01 November 2024
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Projek
- Judul:Teknologi Sederhana yang Menjaga Napas dan Tumbuh Kembang Anak
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:SUMATERA UTARA, DELI SERDANG, PERCUT SEI TUAN, LAUT DENDANG.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
- Ketua:Neza Farach Addiba Barasa
- Angota#1:Neza Farach Addiba Barasa, Tiara Safira Cindy, Shofiah Dina Fadlina
SDGs
Kesehatan yang Baik dan KesejahteraanShare
Deskripsi
PENYAKIT saluran pernapasan masih menjadi momok di banyak desa di Indonesia. Di wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan, pneumonia atau asma sering kali terlambat ditangani. Kondisi ini berisiko menimbulkan komplikasi serius, termasuk stunting pada anak. Stunting tidak hanya soal gizi, tetapi juga erat kaitannya dengan kesehatan pernapasan yang buruk. Dari persoalan itulah lahir sebuah inovasi sederhana namun penting: RespirEase. RespirEase dikembangkan oleh sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Inovasi ini memanfaatkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu mendeteksi gangguan saluran pernapasan secara cepat, akurat, dan terjangkau. Alat ini dirancang agar bisa digunakan langsung oleh petugas kesehatan di lapangan, terutama untuk anak-anak dan ibu hamil yang lebih rentan. Teknologi ini tidak sekadar mendiagnosis penyakit pernapasan. RespireEase juga terintegrasi dengan sistem pemantauan stunting. Dengan begitu, jika seorang anak menunjukkan tanda-tanda gangguan napas, petugas bisa segera melakukan intervensi agar tidak memperburuk status gizinya. Pendekatan ini memberikan dimensi baru dalam pencegahan stunting yang biasanya hanya difokuskan pada asupan makanan. Implementasi RespireEase dilakukan di Desa Laut Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Tahapannya dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat dalam kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer. Tim memperkenalkan bahaya polusi udara dan hubungannya dengan stunting. Di kesempatan yang sama, warga diperkenalkan pada aplikasi RespireEase. Petugas mengajarkan cara mengakses fitur-fitur aplikasi, sekaligus memberikan kuesioner pre-test untuk mengukur pemahaman awal masyarakat. Selain edukasi, tim juga melakukan pemeriksaan kesehatan. Balita diperiksa berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan. Ibu hamil menjalani pengukuran tekanan darah, kadar gula, tinggi rahim, hingga denyut jantung janin. Lansia pun mendapat layanan pemeriksaan kadar gula darah dan tekanan darah. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah uji coba aplikasi dan perangkat RespireEase di lapangan. Hasil pemeriksaan dilengkapi dengan intervensi nyata. Balita mendapat tambahan makanan bergizi, ibu hamil menerima susu, sementara keluarga dengan anak stunting dibekali alat filter udara buatan tim. Kantor desa juga mendapatkan detektor udara untuk memantau kualitas lingkungan. Semua itu disertai modul edukasi tentang stunting dan cara menjaga kesehatan pernapasan. Dampak inovasi ini terukur. Berdasarkan kuesioner, setelah menggunakan aplikasi, masyarakat merasa lebih memahami gejala penyakit pernapasan, lebih percaya diri dalam mengelola masalah kesehatan, dan siap mengambil langkah pencegahan. Banyak yang merekomendasikan aplikasi ini kepada orang lain. Hal yang sama terlihat pada program filter udara. Warga lebih yakin dan mampu membuat alat serupa secara mandiri untuk dipakai di rumah. RespirEase menunjukkan bahwa solusi kesehatan tidak selalu membutuhkan teknologi canggih dan mahal. Dengan pendekatan tepat sasaran, edukasi yang konsisten, serta dukungan dari desa dan puskesmas, inovasi ini mampu memberi dampak nyata. Kini masyarakat Laut Dendang memiliki akses lebih mudah untuk mengenali gangguan pernapasan dan mencegah stunting sejak dini. Inovasi ini diharapkan bisa berkembang menjadi model berkelanjutan dan diterapkan di daerah lain dengan tantangan serupa.