Teknologi Mampu Meningkatkan Nilai Jual Ikan Salai
01 November 2024
Politeknik Negeri Sriwijaya
Projek
- Judul:Teknologi Mampu Meningkatkan Nilai Jual Ikan Salai
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:SUMATERA SELATAN, BANYUASIN, RAMBUTAN, SUNGAI KEDUKAN.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Politeknik Negeri Sriwijaya
- Ketua:Bimo Pamungkas
- Angota#1:: Bimo Pamungkas ,Mohammad Ridwan Firdausi, Tria Apriyant
SDGs
Infrastruktur, Industri dan Inovasi Penanganan Perubahan Iklim Menjaga Ekosistem LautShare
Deskripsi
I KAN salai sudah lama menjadi ikon kuliner Sumatera Selatan. Aroma asapnya khas, rasanya gurih, dan daya tahannya lebih lama dibanding ikan segar. Namun di balik popularitasnya, proses produksi ikan salai masih menyimpan masalah klasik: metode pengasapan tradisional menghasilkan asap pekat yang mencemari lingkungan, boros bahan bakar, dan kapasitas produksinya terbatas. Di Desa Sungai Kedukan, Kecamatan Rambutan, Banyuasin, rumah produksi Ikan Salai Rizki 99 menghadapi persoalan ini setiap hari. Kondisi itulah yang mendorong sekelompok mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya untuk bergerak. Mereka menghadirkan solusi lewat alat bernama Zero Emission Smoker atau ZerisMo. Alat ini dirancang dengan sistem pengasapan tertutup, memanfaatkan metode pirolisis yang mengubah asap buangan menjadi cairan. Sumber energinya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kayu bakar, tetapi ditopang panel surya yang hemat biaya dan ramah lingkungan. Fitur inovasi ini tidak berhenti pada teknologi pengasapan. Tim juga memperbaiki aspek pengemasan dan pemasaran. Jika sebelumnya ikan hanya dibungkus plastik sederhana atau kertas koran, kini digunakan kemasan vakum modern dengan desain menarik. Upaya ini sekaligus menambah nilai jual produk. Sementara itu, dari sisi distribusi, pemasaran yang tadinya terbatas pada penjualan langsung diperluas ke ranah digital melalui platform PaDi UMKM binaan PT Telkom. Rumah produksi bahkan dipasangkan jaringan internet agar mampu mengelola promosi secara mandiri Implementasi ZerisMo berlangsung bertahap, mulai dari perancangan desain alat di aplikasi Autocad, perakitan, hingga uji coba. Pada Februari 2025, uji coba pertama memastikan fungsi alat berjalan baik. Uji coba kedua membandingkan hasil ikan salai konvensional dengan hasil ZerisMo. Hasilnya, cita rasa tetap terjaga, bahkan kadar air pada ikan lebih cepat berkurang sehingga menghasilkan tekstur yang lebih kering dan tahan lama. Lingkungan sekitar pun lebih bersih karena asap tidak lagi menyebar bebas. Dampak nyata langsung dirasakan oleh mitra usaha. Kapasitas produksi yang semula 120–150 kilogram per hari meningkat menjadi 145–180 kilogram. Efisiensi bahan bakar juga lebih baik. Pendapatan harian Ikan Salai Rizki 99 ikut naik, membuka peluang ekspansi ke pasar yang lebih luas. Dengan dukungan pemasaran digital, produk mereka kini menjangkau konsumen di luar Sumatera Selatan. Manfaat sosialnya pun terasa. Proyek ini melibatkan 12 pekerja lokal, sebagian di antaranya anggota keluarga pemilik usaha. Mereka mendapat pelatihan cara menggunakan alat, teknik pengemasan modern, hingga pemasaran digital. Lingkungan produksi menjadi lebih sehat, udara lebih bersih, dan kualitas ikan salai lebih konsisten. Pemilik usaha, Bunyamin, menyatakan semangatnya untuk membagi pengalaman kepada siapa saja yang ingin belajar. Ke depan, tim berencana mendorong sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia dan izin PIRT. Langkah ini diyakini akan memperluas pasar, terutama bagi konsumen yang mengutamakan kehalalan produk pangan.