Loading...

Solusi Berkelanjutan di Pura Rawamangun

01 November 2024
Universitas Pertamina

Projek

  • Judul:Solusi Berkelanjutan di Pura Rawamangun
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAKARTA, JKARTA TIMUR, PULO GADUNG, RAWAMANGUN.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Pertamina
  • Ketua:I Putu Krisna Adi Putra
  • Angota#1:I Putu Krisna Adi Putra, I Putu Purnata Atmaja

SDGs

Energi Bersih dan Terjangkau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab

Share

Deskripsi

DI kawasan Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, aktivitas keagamaan yang kental dengan tradisi Hindu juga menyimpan potensi besar bagi ekonomi lokal. Setiap hari, sekitar 1.000 pengunjung datang ke pura ini, baik untuk beribadah maupun sekadar menikmati wisata budaya yang ditawarkan. Tak hanya menjadi tempat ibadah, kawasan ini juga menjadi pusat kegiatan bagi lebih dari 25 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menyajikan kuliner khas Hindu seperti ikan bakar dan sate ikan. Namun, di balik semangat usaha yang berkembang, terdapat masalah serius yang mengancam kelangsungan bisnis tersebut: metode pembakaran tradisional yang menggunakan batok kelapa sebagai bahan bakar. Penggunaan batok kelapa dalam memasak tidak hanya berdampak pada efisiensi produksi yang rendah, tetapi juga meningkatkan emisi karbon yang mencemari udara sekitar pura. Oleh karena itu, muncul kebutuhan mendesak akan solusi yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan produktivitas UMKM. Inilah yang menjadi dasar dari proyek inovatif yang dilaksanakan oleh tim mahasiswa Universitas Pertamina melalui program Innovillage 2024 yaitu pembuatan dan penggunaan kompor briket berbahan bakar bio-briket dari limbah upakara. Proyek ini mengusung dua solusi utama yang saling terintegrasi. Pertama, limbah upakara seperti janur, bunga, dan stik dupa yang kemudian diolah menjadi bio-briket, sebuah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Melalui proses karbonisasi, limbah organik ini diubah menjadi briket dengan nilai kalor tinggi, mencapai 3.000 hingga 4.000 kalori per kilogram. Kedua, kompor briket inovatif yang dirancang khusus untuk memanfaatkan bio-briket sebagai bahan bakar utama. Kompor ini tidak membutuhkan gas atau minyak tanah, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang berbahaya bagi lingkungan. Fitur utama dari kompor briket ini adalah efisiensi tinggi dalam pemanfaatan panas, dengan meminimalkan asap yang dihasilkan selama proses pembakaran. Selain itu, kompor ini memiliki desain yang mudah digunakan oleh pelaku UMKM di sekitar Pura Aditya Jaya. Dalam implementasinya, tim proyek ini melakukan serangkaian pelatihan kepada para pelaku UMKM mengenai cara pembuatan briket dari limbah upakara dan penggunaan kompor briket sebagai sumber energi yang lebih bersih. Dampak dari inovasi ini sangat signifikan. Secara lingkungan, proyek ini mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh pembakaran batok kelapa, serta mengurangi volume sampah organik yang sebelumnya dibuang begitu saja. Dari sisi ekonomi, pelaku UMKM dapat menghemat biaya operasional dengan menggunakan bahan bakar yang lebih murah dan efisien. Tidak hanya itu, program ini juga membuka peluang usaha baru dalam produksi dan distribusi bio-briket, yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Keberlanjutan dari proyek ini menjadi perhatian utama. Pengelolaan sampah upakara untuk dijadikan bio-briket diharapkan terus berlanjut, dan tim pelaksana terus berkoordinasi dengan pengurus Pura Aditya Jaya serta UMKM untuk memastikan keberhasilan jangka panjang. Dengan adanya evaluasi berkala dan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi briket, proyek ini diharapkan bisa menjadi model bagi inisiatif serupa di daerah lain, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin 7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Top