Loading...

Sago Automation Machine ( Mesin Otomasi Sagu)

28 Oktober 2020
Telkom University

Projek

  • Judul:Sago Automation Machine ( Mesin Otomasi Sagu)
  • Tanggal:28 Oktober 2020 - 06 Desember 2020
  • Lokasi Sosial Projek:Papua Barat, Kabupaten Sorong Selatan, Kais, Tapuri.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University
  • Ketua:Wiridho Partuaon Tambunan
  • Angota#1:Dave E. Maurgi Worabai
  • Angota#2:Mutiara

SDGs

Mengakhiri Kelaparan Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan Infrastruktur, Industri dan Inovasi

Share

Deskripsi

Kota Sorong terletak di provinsi Papua Barat, Nama Sorong berasal dari kata soren. Soren dalam bahasa Biak Numfor yang berarti laut yang dalam dan bergelombang. Suku Biak Numfor inilah yang memberi nama " Daratan Maladum" dengan sebutan SOREN yang kemudian dilafalkan oleh para pedagang Tionghoa, Misionaris clad Eropa, Maluku dan Sanger Talaut dengan sebutan Sorong.

Kota Sorong sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan Kota Persinggahan. Kota Sorong juga merupakan Kota industri, perdagangan dan jasa, karena Kota Sorong dikelilingi oleh Kabupaten - Kabupaten yang mempunyai Sumber Daya Alam yang sangat potensial contohnya seperti sagu. Sagu identik dengan masyarakat Timur Indonesia, karena sagu adalah salah satu bahan makanan pokok pengganti beras bagi masyarakat Timur Indonesia.

Di Kabupaten Sorong Selatan terdapat Hutan Sagu terluas yang diakui oleh dunia. Pemetaan Hutan Sagu di Kabupaten  Sorong Selatan yang diteliti oleh tim peneliti Kajian Pangan Lokal Universitas Negeri Papua (UNIPA), membuktikan bahwa luas hutan sagu di Kabupaten Sorong Selatan ini mencapai 750.000 Hektar. Sebagai salah satu kota penghasil sagu terbesar di dunia, Kabupaten Sorong Selatan harus mampu mengelolah dengan baik sumber daya alam yang ada sehingga dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.

Namun dalam pemanfaatan sagu yang terdapat di hutan sagu di Provinsi Papua Barat ini tentunya terdapat beberapa kendala di dalamnya, mulai dari akses dan juga sumber daya manusia. Banyak masyarakat modern saat ini tidak tahu bagaimana cara mengelola sagu untuk dijadikan sumber makanan maupun sumber penghasilan. Disamping itu dalam proses pengelolaan sagu ini masih menggunakan proses manual dimana sagu biasanya diproses langsung oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan alat seadanya sehingga membutuhkan waktu yang banyak dalam proses pengelolaan sampai menjadi sebuah sagu yang dapat dikonsumsi.

Oleh karenanya, dari permasalahan yang ada sehingga kami menyusun dan mengusulkan sebuah proses automasi dalam pengelolaan sagu ini berupa mesin yang dapat mengelola sagu mentah menjadi siap untuk dipasarkan, disamping itu mesin panen sagu ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memproses sagu, sehingga tidak perlu membutuhkan masyarakat yang memiliki keterampilan tertentu untuk memproses sagu karena dengan mesin panen sagu ini masyarakat dapat dengan mudah memproses dan mengelola sagu.

Kegiatan Implementasi

Sagu adalah makanan pokok bagi warga Indonesia yang tinggal di sebagian besar wilayah Indonesia Timur. Mulai dari Maluku, Papua, bahkan Nusa Tenggara umumnya mengenal sagu dalam struktur menu makanan utama penduduk aslinya. Sagu sendiri sebenarnya berasal dari tepung yang didapat dari batang pohon sagu (Metroxylon sagu Rottb.) yang bentuknya menyerupai pohon palma. Umumnya pohon sagu tumbuh di tepian sungai atau wilayah dengan kadar air yang cukup tinggi seperti rawa. Pohon sagu dapat tumbuh hingga mencapai 30 meter dan dari satu pohon para petani sagu dapat menghasilkan 150-300 kilogram bahan baku tepung sagu. Kami berpatisipasi dalam kegiatan social project bernama Innovillage yang diselenggarakan oleh Telkom University.Melalui program Innovillage 2020, kami diberikan berkesempatan untuk merealisasikan ide kami dengan total anggaran yang disetujui sebesar Rp. 20.409.510 

Kelompok kami yang bernama Team SAM (Sago Automation Machine) dari Telkom University meninjau serta mengangkat permasalahan yang terjadi di Desa Kampung C, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat yang permasalahan dalam pengolahan sagu yang masih memakai cara tradisional atau manual, sehingga selain memakan waktu pengolahan yang lumayan banyak, tenaga juga akan terkuras, d. Kami mahasiswa sebagai penerus bangsa dan ilmu yang kami miliki, kami berniat untuk membantu memecahkan masalah serta membuat suatu inovasi agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan sekitar  agar masyarakat juga tau dan dapat terbuka, bahwa dengan memanfaatkan teknologi dapat membuat proses pembuatan produk ini menjadi lebih efisien. 

Inovasi yang kami buat adalah dengan membuat mesin otomatis sagu. Pengaplikasian alat ini bermanfaat untuk membantu masyarakat agar meningkatkan produksi dan kualitas sagu, sehingga menjadi efisien dan praktis. Kami mendapat kendala selama pengerjaan dikarenakan tiap anggota tim yang berbeda tempat, Sehingga dalam pembuatan rancangan alat mesin ini dilakukan di Timika dan jika sudah selesai akan dikirimkan ke Sorong. Adapun rekan kerja kami yang membantu dalam proses implementasi di Sorong. 

Dimulai dari minggu  1, rekan kerja kami mengunjungi lokasi tujuan langsung dari Kota Sorong ke Sorong Selatan. Dalam perjalanan waktu memakan waktu  kurang lebih 7 jam sehingga keberangkatan mulai dari subuh hari. Adapun kendala dalam mengunjungi lokasi tujuan dikarenakan jalan yang rusak dan agak berlumpur. Rekan kerja kami mewawancarai salah satu seseorang disana yang dapat dibilang merupakan petani sagu. Saya selaku Ketua yang berada di kota Timika  juga sedang mencari alat yang akan dipakai di Sorong. Pada minggu 2 kami gunakan untuk pembelian alat dan bahan sekaligus memasangnya langsung dan siap dikirimkan melalui kurir TKD Express. 

Pada minggu 3, kami siap untuk mengirim dan terdapat kendala dalam proses pengiriman, dimana alat dan mesin yang sudah jadi harus dikirimkan dalam bentuk terpisah atau sudah seperti sparepart. sehingga kami membongkar ulang dan mengirimnya. Waktu pengiriman ke Sorong memakan waktu 4-5 hari. Lanjut pada minggu 4, alat yang telah sampai kami memasang ulang di bengkel. Alat yang sudah terpasang baik di bengkel kami membawa nya ke Sorong Selatan. Untuk melihat apakah alat tersebut sudah terpasang baik dan dapat digunakan rekan kami menginap selama 2 hari disana.  Dan semuanya berjalan dengan lancar, masyarakat juga senang dengan adanya alat ini karena dalam menggunakan tidak dibutuhkan keterampilan khusus dan tenaga yang besar. 

KESAN PESAN

Social Project Innovillage memberikan banyak pengalaman. Mulai dari survey ke desa, mengelilingi desa, berkoordinasi langsung dengan masyarakat desa , membuat alat mesin yang berguna bagi mereka. Banyak pelajaran yang didapat selama kegiatan ini. Kegiatan Innovillage ini membuat kami menjadi lebih terbuka akan perhatian kemajuan tiap-tiap desa yang berada di sekitar kami. Dan tentunya kami sebagai mahasiswa belajar untuk mengabdi kepada masyarakat . Kami dari Team SAM  mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang mendukung terlaksananya kegiatan ini khususnya kepada CAE Telkom University dan BUMN  yang telah menyediakan wadah untuk bisa membuat maju desa  di negeri Indonesia tercinta ini. 

Jangan lupa di tonton ya video dokumentasinya

Top