Penerapan Teknologi Agar Tempe Lebih Cepat Matang
01 November 2024
Telkom University Purwokerto
Projek
- Judul:Penerapan Teknologi Agar Tempe Lebih Cepat Matang
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA TENGAH, BANYUMAS, AJIBARANG, AJIBARANG KULON.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Telkom University Purwokerto
- Ketua:Dedy Tigor Manurung
- Angota#1:Dedy Tigor Manurung, Hotman Ivan Sianturi, Oky Wida Syahputra
SDGs
Menghapus Kemiskinan Mengakhiri Kelaparan Konsumsi dan Produksi yang BertanggungjawabShare
Deskripsi
B AGI banyak keluarga di Indonesia, tempe adalah lauk wajib yang hampir setiap hari hadir di meja makan. Harganya terjangkau, rasanya akrab di lidah, dan bergizi tinggi. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik sepotong tempe, ada kerja panjang para perajin. Mereka masih bergantung pada cara fermentasi tradisional yang memakan waktu hingga empat hari. Prosesnya sering menghasilkan mutu yang tidak konsisten, sementara biaya energi terus membengkak karena pemantauan harus dilakukan manual. Masalah inilah yang mendorong sekelompok mahasiswa Telkom University Purwokerto untuk mencari solusi. Mereka melihat bahwa tempe seharusnya bisa diproduksi lebih efisien dengan bantuan teknologi. Dari pengamatan lapangan, lahirlah gagasan menghadirkan Inkubator Fermentasi Berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini dirancang untuk memangkas waktu fermentasi menjadi hanya dua hari, dengan kualitas produk yang lebih stabil, serta pengawasan yang lebih mudah bagi para perajin. Inkubator bekerja dengan mengintegrasikan sensor suhu dan kelembapan yang dipasang di dalam ruang fermentasi. Sensor ini terhubung dengan sistem kontrol otomatis yang akan menyalakan kipas atau heater sesuai kebutuhan. Dengan begitu, suhu dan kelembapan selalu terjaga pada titik ideal. Untuk mendukung kemandirian energi, panel surya dipasang agar inkubator bisa berjalan tanpa terlalu bergantung pada listrik rumah tangga. Alat ini juga dilengkapi web monitoring yang memungkinkan perajin melihat kondisi fermentasi secara realtime, bahkan dari jarak jauh. Perakitan dilakukan bertahap. Tim memulai dengan rapat koordinasi, lalu menyiapkan perangkat inti seperti ESP32, sensor DHT11, kipas, lampu pijar, heater, dan panel surya. Setelah perangkat terpasang, mereka menguji kestabilan koneksi dan akurasi sensor. Hasil pengukuran kemudian ditampilkan lewat dashboard berbasis web yang menampilkan grafik suhu dan kelembaban secara langsung. Uji coba berikutnya dilakukan di rumah produksi mitra untuk memastikan alat bekerja sesuai kebutuhan. Hasilnya terbukti. Proses fermentasi yang biasanya membutuhkan empat hari bisa dipangkas menjadi dua hari saja. Mutu tempe lebih konsisten, tidak terlalu lembek ataupun terlalu keras. Seorang pengrajin, Nurdin Hidayat, menyampaikan bahwa alat ini memberi kepastian kualitas sekaligus menambah jumlah produksi harian hingga 30 persen. Tempe yang lebih cepat matang membuat pengrajin bisa melayani lebih banyak permintaan pasar. Manfaat ini dirasakan langsung oleh satu rumah produksi dan sekitar 10 hingga 20 perajin di Desa Pliken. Selain peningkatan produksi, keterampilan teknis masyarakat juga ikut berkembang karena mereka dilatih untuk mengoperasikan dan merawat inkubator. Dengan pendapatan yang lebih baik, dampaknya meluas ke aspek lain, dari pendidikan anak hingga akses kesehatan keluarga. Meski masih ada tantangan, seperti keterbatasan jaringan internet untuk mengakses web monitoring atau pasokan kedelai yang kadang tidak menentu, peluang keberlanjutan inovasi ini tetap besar. Inkubator dirancang untuk beroperasi mandiri hingga dua tahun dengan perawatan rutin. Model seperti ini bahkan berpotensi direplikasi ke wilayah lain, karena kebutuhan dan tantangannya mirip. Keunggulan inkubator IoT ini membuatnya menonjol dibanding metode tradisional atau semi-otomatis. Dengan integrasi sensor, panel surya, dan monitoring real-time, pengrajin kini memiliki kontrol penuh atas proses produksi. Jika diperluas, ratusan keluarga pengrajin tempe di tingkat kabupaten hingga provinsi dapat merasakan manfaat yang sama.