Loading...

Pendidikan Kebencanaan Berbasis Teknologi di Desa Alue Naga

01 November 2024
Universitas Syiah Kuala

Projek

  • Judul:Pendidikan Kebencanaan Berbasis Teknologi di Desa Alue Naga
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:ACEH, BANDA ACEH, SYIAH KUALA, DESA ALUE NAGA.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Syiah Kuala
  • Ketua:Muhammad Faizul
  • Angota#1:Muhammad Faizul, M. Fadil Ramadhan, Irfan Ferdiansyah

SDGs

Pendidikan Bermutu Infrastruktur, Industri dan Inovasi Mengurangi Ketimpangan Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan

Share

Deskripsi

DESA Alue Naga yang terletak di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana. Sebagai salah satu daerah pesisir yang rawan terhadap ancaman bencana alam, terutama tsunami dan gempa bumi, desa ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Mayoritas penduduknya bergantung pada sektor perikanan dan pertanian, serta kegiatan usaha kecil lainnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Di tengah potensi ancaman yang besar, kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana masih terbatas, terutama di kalangan anak-anak dan penyandang disabilitas. Sebagai respons terhadap masalah tersebut, tim DisasteAR dari Universitas Syiah Kuala meluncurkan sebuah inovasi berbasis teknologi yang bertujuan untuk memberikan edukasi kebencanaan secara interaktif dan inklusif. DisasteAR memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) untuk memberikan pemahaman tentang bencana alam dengan cara yang lebih menarik dan mudah diakses, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan penyandang disabilitas. Melalui teknologi ini, tim bertujuan untuk mengatasi keterbatasan pengetahuan masyarakat terhadap bencana alam, serta meningkatkan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi situasi darurat. Desa Alue Naga merupakan daerah yang sangat rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Letaknya yang berada dekat dengan garis pantai membuatnya sangat berisiko terhadap tsunami yang bisa datang dengan cepat dan mengancam keselamatan warga. Selain itu, desa ini juga terletak pada zona gempa yang tinggi, yang memerlukankesiapsiagaan khusus. Namun, meskipun ancaman bencana sudah lama dikenal, pengetahuan masyarakat, terutama anak-anak dan penyandang disabilitas, tentang cara-cara mitigasi bencana dan prosedur evakuasi masih sangat terbatas. Sebagian besar masyarakat di desa ini mengandalkan metode konvensional dalam memperoleh informasi terkait bencana, yang sering kali tidak efektif untuk semua kalangan. Selain itu, anak-anak dan penyandang disabilitas sering terabaikan dalam proses edukasi kebencanaan karena keterbatasan aksesibilitas. Inilah yang menjadi latar belakang utama mengapa DisasteAR, sebuah inovasi berbasis AR dan VR, dikembangkan. Dengan menggunakan teknologi ini, tim bertujuan untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh seluruh masyarakat, tanpa ada yang tertinggal. DisasteAR menawarkan solusi inovatif dengan mengintegrasikan elemen digital ke dalam lingkungan nyata melalui teknologi AR dan VR. Teknologi ini memungkinkan visualisasi skenario bencana secara realistis dan interaktif, memberikan pengalaman mendalam yang tidak hanya meningkatkan pemahaman tetapi juga mempersiapkan masyarakat untuk bertindak saat terjadi bencana. Salah satu fitur utama dalam DisasteAR adalah DisasteAR Game, yang dirancang untuk memberikan pengalamanedukasi yang menyenangkan sekaligus mendidik. Dalam game ini, pengguna dapat berperan langsung dalam simulasi bencana dan mempelajari cara-cara penyelamatan diri dengan cara yang sangat interaktif. Selain game, DisasteAR juga menyediakan konten edukasi berupa video 360° yang memungkinkan peserta untuk melihat dan memahami jalur evakuasi dengan lebih jelas. Video ini dibuat dengan teknologi 360°, yang dapat digunakan dengan perangkat VR, memberikan pengalaman imersif yang tidak dapat dicapai dengan metode pengajaran tradisional. Dalam hal ini, DisasteAR bertujuan untuk membuat pengalaman pembelajaran lebih konkret, bukan sekadar teori. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mempelajari apa yang harus dilakukan, tetapi juga merasakan pengalaman langsung dari bencana yang mungkin mereka hadapi. Salah satu aspek utama yang membedakan DisasteAR dari pendekatan tradisional adalah kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan berbagai kelompok, termasuk penyandang disabilitas. Fitur visual dan teks dalam aplikasi ini membantu siswa tunarungu memahami skenario mitigasi bencana, sementara narasi audio dan efek suara 3D memberikan panduan bagi tunanetra. Dengan demikian, DisasteAR menjamin bahwa tidak ada individu yang tertinggal dalam usaha mitigasi bencana. Selain itu, DisasteAR juga mengembangkan game edukasi berbasis Roblox Studio yang mencakup berbagai jenis bencana, seperti tsunami, gempa bumi, dan letusan gunung api. Game ini dirancang dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang bencana alam dan cara-cara menyelamatkan diri. Setiap tahap dalam permainan mengajarkan langkah-langkah penyelamatan yang benar dan memberikan informasi tambahan melalui dialog dalam game, yang memperkaya pengalaman belajar. Pada tahap pertama implementasi, tim DisasteAR bekerja sama dengan Kepala Desa Alue Naga dan Kepala Sekolah SDN 58 Alue Naga untuk memastikan bahwa program ini diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Koordinasi dilakukan untuk memahami kebutuhan masyarakat serta menetapkan jadwal kegiatan. Tim juga membeli 10 unit VR Cardboard sebagai bagian dari uji coba dan riset materi edukasi yang akan digunakan. Hasilnya, program ini mendapatkan sambutan positif dari masyarakat, terutama anak-anak yang menunjukkan minat besar terhadap teknologi ini. Mereka sangat tertarik dengan penggunaan perangkat Oculus Quest, yang memberi mereka pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mendidik. Pada tahap kedua, tim DisasteAR mengem - bangkan lebih lanjut materi edukasi berbasis VR dan AR, serta mulai membuat video simulasi bencana dan merancang game edukasi. Setelah mendapatkan umpan balik positif dari pengguna awal, tim melakukan perbaikan pada fitur-fitur yang ada, termasuk pengujian perangkat Oculus Quest 3s yang akhirnya digunakan dalamimplementasi di SDN 58 Alue Naga. Tim juga mengadakan pelatihan untuk guru-guru di sekolah tersebut agar mereka dapat memahami dan mengajarkan penggunaan perangkat ini dengan lebih efektif. Pada tahap akhir implementasi, program DisasteAR berhasil dilaksanakan di SDN 58 Alue Naga, dengan melibatkan 40 siswa dari kelas 4 hingga 6, termasuk dua siswa tunarungu. Selama kegiatan, siswa mendapatkan pemaparan materi kebencanaan yang disampaikan secara interaktif dengan menggunakan teknologi VR. Mereka tidak hanya mempelajari materi tentang bencana alam, tetapi juga merasakan langsung pengalaman mitigasi bencana melalui permainan dan video yang disediakan. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan hasil yang sangat positif. Sebanyak 82% siswa berhasil menjawab pertanyaan kuis dengan benar setelah mengikuti program, yang menandakan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan. Siswa melaporkan bahwa mereka merasa lebih tertarik untuk belajar tentang kebencanaan menggunakan teknologi dibandingkan dengan metode konvensional, seperti ceramah atau membaca buku. Melihat keberhasilan proyek ini, DisasteAR memiliki potensi untuk terus berkembang dan diperluas ke lebih banyak sekolah dan komunitas di daerah rawan bencana. Salah satu langkah yang direncanakan untuk keberlanjutan proyek ini adalah menjalin kemitraan dengan lembaga pendidikan dan badan penanggulangan bencana untuk memasukkan DisasteAR ke dalam kurikulum pendidikan kebencanaan di sekolahsekolah. Proyek ini juga memiliki peluang besar untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga internasional untuk meningkatkan aksesibilitas teknologi kebencanaan di daerahdaerah yang membutuhkan. Dengan keberhasilan yang telah dicapai dan dukungan dari berbagai pihak, DisasteAR diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Proyek ini bukan hanya memberikan pengetahuan tentang mitigasi bencana, tetapi juga membuka jalan bagi penggunaan teknologi dalam pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Top