Loading...

Mendorong Pertanian Cerdas Ala Desa Ciapus

01 November 2025
Universitas Telkom

Projek

  • Judul:Mendorong Pertanian Cerdas Ala Desa Ciapus
  • Tanggal:01 November 2025 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, KABUPATEN BANDUNG, BANJARAN, CIAPUS.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
  • Ketua:Rafi Fadyan Ananda Sularto
  • Angota#1:Rafi Fadyan Ananda Sularto , Indha Wahyuni, Michael Parlin Simanjuntak

SDGs

Menghapus Kemiskinan Mengakhiri Kelaparan Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab

Share

Deskripsi

PERTANIAN di Desa Ciapus, Kabupaten Bandung, masih menghadapi kendala klasik yang membebani para petani. Penyiraman manual membutuhkan tenaga dan waktu yang besar, sementara ketiadaan alat untuk memantau kelembaban tanah maupun tingkat keasaman pupuk membuat hasil panen sering tidak optimal. Kondisi ini semakin diperparah dengan absennya sistem pembasmi hama otomatis yang membuat risiko gagal panen tetap tinggi. Ketergantungan pada metode lama membuat produktivitas sulit berkembang, padahal mayoritas warga desa menggantungkan hidup dari lahan pertanian. Dari persoalan itulah muncul inisiatif mahasiswa Telkom University yang menggagas inovasi bernama Aquasense. Teknologi ini dikembangkan melalui program Innovillage 2024 dengan tujuan membantu petani bekerja lebih efisien dan berkelanjutan. Aquasense memanfaatkan sistem berbasis Internet of Things (IoT) yang dilengkapi sensor kelembaban tanah, sensor pH pupuk kompos, serta sistem penyiraman otomatis. Untuk menopang kinerjanya, perangkat ini menggunakan energi dari panel surya sehingga tidak lagi bergantung pada listrik PLN yang kerap tidak stabil di daerah pertanian. Tahap awal proyek dimulai dengan survei kebutuhan masyarakat, pengumpulan data lapangan, serta pengembangan prototipe sensor. Mahasiswa juga berdiskusi dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat agar teknologi yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani. Hasil uji coba awal menunjukkan sensor mampu bekerja secara akurat memberikan informasi real-time terkait kondisi lahan. Tahap kedua berfokus pada sistem energi berbasis surya. Tim mengadakan panel 120 Wp, baterai VRLA, dan inverter berkapasitas 1500 VA. Panel dipasang pada rangka besi yang dirancang khusus agar tahan cuaca sekaligus mampu menyerap sinar matahari secara maksimal. Uji coba dilakukan dengan teliti untuk memastikan daya yang dihasilkan stabil sebelum diintegrasikan ke perangkat Aquasense. Dengan langkah ini, penyiraman otomatis dapat berjalan berkelanjutan tanpa khawatir gangguan pasokan listrik. Pada tahap akhir, sistem dipasang di lahan pertanian Desa Ciapus. Tim mahasiswa bersama kelompok tani melakukan instalasi pompa, pipa, serta jaringan sensor. Uji coba lapangan berlangsung sukses, sekaligus menjadi ajang pelatihan bagi petani agar terbiasa mengoperasikan dan merawat alat. Aquasense terbukti mampu mengurangi konsumsi air hingga 30 persen. Selain itu, penyiraman otomatis membuat petani lebih leluasa mengatur waktu. Mereka bisa mengurus pekerjaan lain tanpa meninggalkan kewajiban menjaga kelembaban tanaman. Dampak positif dari proyek ini langsung terasa. Sebanyak 15 petani sudah mengadopsi sistem tersebut di lahan masing-masing. Efisiensi tenaga kerja meningkat, biaya operasional menurun, dan hasil panen lebih baik. Produk pertanian yang dihasilkan pun memiliki kualitas lebih tinggi sehingga memberikan keuntungan ekonomi bagi keluarga petani.

Top