Membuka Suara Anak-anak yang Terlambat Bicara
01 November 2024
Universitas Telkom
Projek
- Judul:Membuka Suara Anak-anak yang Terlambat Bicara
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAWA TENGAH, SURAKARTA, BANJARSARI, MANGKUBUMEN.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
- Ketua:Jibril Satrio Permadi
- Angota#1:Jibril Satrio Permadi, Revino Sava Gavrila, Dede Rahmat Fitriansyah
SDGs
Pendidikan Bermutu Mengurangi KetimpanganShare
Deskripsi
A NAK-ANAK dengan gangguan keterlambatan bicara sering kali menghadapi tantangan berat dalam berkomunikasi. Mereka tidak hanya kesulitan menyampaikan keinginan, tetapi juga menghadapi hambatan sosial dan emosional yang berpengaruh pada proses belajar. Di SLB Negeri Surakarta, masalah ini semakin terasa karena metode terapi konvensional yang digunakan kerap kurang interaktif dan tidak menyesuaikan kebutuhan tiap anak. Dari sinilah muncul ide untuk mencari solusi yang lebih menyenangkan dan adaptif bagi mereka. Tim SpeechPals dari Telkom University menjawab tantangan itu lewat sebuah inovasi bernama SpeEasy, aplikasi terapi wicara berbasis Augmented Reality (AR), Voice Recognition, dan gamifikasi yang dirancang untuk membantu anak-anak dengan speech delay belajar bicara dengan cara yang menyenangkan. Aplikasi ini lahir dari keprihatinan sederhana: banyak anak dengan hambatan bicara membutuhkan media terapi yang tidak hanya efektif, tetapi juga menarik. SpeEasy menawarkan pengalaman belajar yang unik. Melalui kamera gawai, anak-anak dapat melihat objek tiga dimensi muncul di dunia nyata menggunakan teknologi AR, sementara fitur voice recognition memberikan umpan balik langsung atas pengucapan kata. Fitur permainan sederhana berbasis metode Picture Exchange Communication System (PECS) membuat proses terapi terasa seperti bermain. Anak tidak hanya menghafal kata, tetapi juga belajar menyusunnya menjadI kalimat lewat enam tahapan pembelajaran interaktif, mulai dari pengenalan kosakata dasar hingga kemampuan berbicara spontan. Antarmuka SpeEasy dirancang ramah anak: warna lembut, tombol besar, dan tampilan yang mudah dipahami. Selain itu, aplikasi ini memungkinkan orang tua dan guru ikut terlibat aktif dalam proses terapi. Semua tahapan pembelajaran terekam di aplikasi sehingga perkembangan anak dapat dipantau dari waktu ke waktu. Dalam proses implementasinya di SLB Negeri Surakarta, tim SpeechPals menggelar pelatihan untuk guru dan orang tua agar mereka mampu mendampingi anak menggunakan aplikasi ini di rumah. Uji coba aplikasi di sekolah menunjukkan hasil menggembirakan. Anak-anak tampak antusias,. Mereka menekan tombol berulang kali, menirukan suara dari aplikasi, bahkan bertepuk tangan setiap kali berhasil menyelesaikan tahap. Guru dan orang tua pun menyatakan SpeEasy membantu meningkatkan fokus anak dan memperpanjang durasi belajar mereka. Dengan media ini, terapi tak lagi terbatas di ruang kelas; anak bisa berlatih kapan pun di rumah dengan bimbingan orang tua. Dampaknya tidak berhenti di situ. SpeEasy mempererat hubungan antara anak dan orang tua melalui kegiatan terapi yang dilakukan bersama. Di sisi lain, guru merasa terbantu dengan adanya alat bantu digital yang membuat pembelajaran lebih interaktif. Dari sisi sosial, proyek ini juga memberdayakan masyarakat sekitar melalui pelatihan penggunaan aplikasi dan kolaborasi dengan tenaga lokal dalam pengembangan konten. SpeEasy kini telah tersedia di Play Store dan siap digunakan secara luas. Tim SpeechPals berharap aplikasi ini bisa diadopsi tidak hanya oleh SLB Negeri Surakarta, tetapi juga oleh sekolah luar biasa lain, rumah sakit, dan klinik terapi wicara di seluruh Indonesia. Lebih jauh lagi, SpeEasy berpotensi menjadi alat edukatif bagi semua anak usia dini untuk mengasah kemampuan bahasa mereka.