Jelantah yang Mendorong Ekonomi Sirkular
01 November 2024
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta
Projek
- Judul:Jelantah yang Mendorong Ekonomi Sirkular
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:JAKARTA, JAKARTA PUSAT, SENEN, PASEBAN.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta
- Ketua:Aurora Ramadhita Syaharani
- Angota#1:Aurora Ramadhita Syaharani, Praja Laksamana Bahar, Fathir Ardra Rapanga
SDGs
Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Infrastruktur, Industri dan Inovasi Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab Penanganan Perubahan IklimShare
Deskripsi
LIMBAH minyak jelantah sering dianggap sebagai masalah rumah tangga yang sepele, padahal dampaknya pada lingkungan cukup serius. Di kawasan padat seperti Desa Paseban, Jakarta Pusat, minyak bekas pakai kerap dibuang sembarangan hingga mencemari air tanah dan menimbulkan bau tak sedap. Dari hasil pengamatan, sekitar 30–40 kilogram minyak jelantah terbuang setiap hari. Situasi ini menuntut solusi inovatif yang tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga mampu memberi nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Menjawab tantangan itu, tim mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta menggagas pembuatan bio-grease berbahan dasar minyak jelantah. Produk ini berupa pelumas ramah lingkungan yang bisa dipakai di mesin kapal, sistem hidrolik, gearbox, hingga pompa. Formulasi bio-grease memanfaatkan minyak jelantah yang dipadukan dengan kalsium hidroksida food grade, BHT, dan kitosan. Hasilnya mampu menyaingi kualitas pelumas konvensional seperti lithium grease, tetapi dengan biaya lebih murah dan dampak lingkungan lebih kecil. Proses produksi dilakukan secara sederhana, menggunakan kompor gas portabel dan mixer otomatis. Namun inovasi tak berhenti di situ. Tim juga mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas produksi. Sensor suhu dan sensor gas dihubungkan dengan aplikasi Blynk, sehingga operator bisa mengawasi suhu pemanasan, tingkat kematangan, hingga kondisi keamanan produksi secara real-time. Sistem ini memberi notifikasi otomatis jika terjadi anomali, menjamin bio-grease yang dihasilkan sesuai standar industri. Produk yang dihasilkan tidak sekadar percobaan. Bio-grease telah melewati uji laboratorium dengan standar nasional (SNI 7069-15:2019 dan SNI 7069- 8:2017) serta standar internasional ASTM D217 Hasil pengujian menunjukkan kualitasnya sebanding dengan pelumas konvensional yang beredar di pasaran. Bahkan, tingkat efisiensi produksinya mencapai 100 persen dari berat minyak jelantah yang digunakan. Dengan kata lain, setiap liter limbah minyak bisa diubah seluruhnya menjadi pelumas bernilai guna. Implementasi proyek ini melibatkan langsung kelompok Ibu PKK di Desa Paseban. Sebanyak 20 orang—15 perempuan dan 5 laki-laki—mengikuti pelatihan produksi dan pemasaran digital. Mereka belajar mengolah minyak jelantah menjadi biogrease sekaligus memahami strategi penjualan melalui media sosial dan marketplace. Cerita dari para peserta cukup menggugah. Seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan suami kini mampu ikut menambah penghasilan keluarga dengan memproduksi dan menjual bio-grease. Sementara seorang mekanik lokal menemukan pengalaman baru ketika ikut mengembangkan sistem IoT untuk memastikan kualitas produksi. Dampaknya langsung terasa. Sebanyak 10 kilogram minyak jelantah berhasil dikonversi menjadi bio-grease dengan efisiensi produksi penuh. Produk awal berjumlah lima jar terjual melalui jaringan kerabat dan teman dengan harga Rp35.000 per jar. Meski jumlahnya kecil, ini menandai langkah awal masuknya bio-grease ke pasar lokal. Dengan target produksi 50 jar per bulan, kelompok Ibu PKK berpotensi meraih pendapatan hingga Rp1,75 juta per bulan. Lebih jauh, proyek ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat literasi teknologi di masyarakat. Kini 90 persen peserta pelatihan sudah paham cara menggunakan sistem IoT untuk memantau produksi.