Loading...

Inovasi Pengolahan Limbah Kedelai di Desa Pliken

01 November 2024
Telkom University Purwokerto

Projek

  • Judul:Inovasi Pengolahan Limbah Kedelai di Desa Pliken
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA TENGAH, BANYUMAS, KEMBARAN, PLIKEN.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Telkom University Purwokerto
  • Ketua:Adhystira Raihannoeza Almadiva
  • Angota#1:Adhystira Raihannoeza Almadiva, Bima Adhi Nugraha, Mario Firdaus Abdillah

SDGs

Akses Air Bersih dan Sanitasi Penanganan Perubahan Iklim

Share

Deskripsi

MASALAH limbah industri tempe menjadi tantangan besar bagi banyak produsen di Indonesia, tak terkecuali di Desa Pliken, Kabupaten Banyumas. Desa ini dikenal sebagai sentra produksi tempe, namun limbah cair yang dihasilkan dalam jumlah besar sering kali mencemari lingkungan, merusak kualitas air, dan mengancam keseimbangan ekosistem lokal. Limbah tersebut memiliki pH rendah dan kandungan organik tinggi, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat menambah kerusakan pada sumber daya alam yang sudah semakin terbatas. Menanggapi masalah ini, sekelompok mahasiswa dari Telkom University Purwokerto menciptakan inovasi yang menggabungkan teknologi elektrolisis dan Internet of Things (IoT). Inovasi ini dirancang untuk mengolah limbah cair kedelai dengan menggunakan panel surya sebagai sumber energi utama. Dengan sistem ini, proses elektrolisis akan menetralkan pH limbah hingga mencapai standar aman, sementara data pemrosesan dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi berbasis IoT. Proses implementasi inovasi ini dimulai dengan melakukan survei kepada produsen tempe di Desa Pliken untuk memahami karakteristik limbah yang dihasilkan. Tahap berikutnya adalah merancang prototipe alat yang mengintegrasikan sensor pH, sensor viskositas, dan sistem filtrasi, dilanjutkan dengan uji coba alat di lokasi produksi tempe milik Bapak Imam Sudrajat. Alat ini didesain untuk memantau pH dan viskositas limbah, serta secara otomatis menetralkan pH limbah tersebut. Walaupun sistem ini menunjukkan hasil yang positif, implementasi di lapangan tidak berjalan mulus. Beberapa masalah teknis ditemukan, seperti kerusakan sensor pH akibat kontaminasi asam, kegagalan solenoid valve, serta ketidakefektifan sensor viskositas yang tidak dapat mengukur kekentalan cairan dengan akurat. Kendala tersebut diatasi dengan mengganti beberapa komponen dan menyesuaikan metode pengolahan limbah yang lebih manual, mengingat kondisi limbah yang sangat bervariasi. Walaupun menghadapi beberapa tantangan, inovasi ini telah membawa dampak positif, baik terhadap lingkungan maupun masyarakat. Peningkatan pH limbah yang signifikan, meskipun masih belum mencapai standar pH netral (7), menunjukkan bahwa sistem ini berhasil mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan. Selain itu, alat ini telah memberikan edukasi dan kesadaran lingkungan kepada produsen tempe di Desa Pliken tentang pentingnya pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Dengan penerapan teknologi ini, diharapkan bisa mengurangi pencemaran air dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat. Sebagai langkah ke depan, tim pengembang berencana untuk menyewakan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) alat ini kepada produsen tempe lain di desa untuk memungkinkan mereka mengadopsi teknologi serupa. Upaya ini bertujuan agar lebih banyak produsen tempe yang dapat mengurangi dampak pencemaran limbah dan beralih ke sistem pengolahan yang lebih ramah lingkungan. Meski masih dalam tahap pengembangan, alat ini memiliki potensi besar untuk diterapkan pada industri pengolahan limbah dari produk berbasis kedelai lainnya, seperti tahu. Dengan keberhasilan implementasi yang sudah ada, diharapkan teknologi ini akan menyebar lebih luas, tidak hanya di Desa Pliken, tetapi juga ke daerah-daerah penghasil tempe lainnya di Indonesia, yang memiliki tantangan serupa dalam pengelolaan limbah.

Top