Loading...

Inovasi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik untuk Meningkatkan Kualitas Hidup

01 November 2024
Universitas Telkom

Projek

  • Judul:Inovasi Kreatif Pengolahan Sampah Plastik untuk Meningkatkan Kualitas Hidup
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:JAWA BARAT, KABUPATEN BANDUNG, LEMBANG, CIBOGO.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Telkom
  • Ketua:Izzulhaq Mahardika
  • Angota#1:zzulhaq Mahardika, Antonius Simon Pehan Hadjon, Tiara Sabrina

SDGs

Energi Bersih dan Terjangkau Infrastruktur, Industri dan Inovasi Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan

Share

Deskripsi

REPLASTICO hadir sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini menghadapi tantangan besar dengan menghasilkan 3,5 ton sampah per hari, 60% di antaranya adalah plastik, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat menambah beban lingkungan. Replastico bukan hanya menawarkan solusi pengolahan sampah, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat melalui pendekatan ekonomi sirkular. Desa Cibogo menghadapi masalah sampah plastik yang tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga membebani tempat pembuangan sampah (TPS) seperti Sarimukti yang sudah overload. Sampah plastik yang menumpuk memerlukan solusi yang lebih dari sekadar pembuangan. Inilah yang mendorong kehadiran Replastico, sebuah program yang mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai guna, seperti paving block, meja, dan kursi, yang digunakan untuk mendukung infrastruktur desa dan meningkatkan ekonomi lokal. Proyek ini menggunakan teknologi ramah lingkungan dengan memanfaatkan turbin angin untuk menghasilkan listrik yang menggerakkan mesin pencacah plastik dan mesin pres. Sistem ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional dan meminimalkan dampak lingkungan negatif. Sampah plastik yang telah dipilah diolah melalui serangkaian proses, termasuk pencacahan, pencucian, pengeringan, pelelehan, dan pencetakan. Produk akhir ini digunakan untuk membangun infrastruktur lokal atau dijual untuk mendukung perekonomian desa. Replastico diimplementasikan dalam beberapa tahap, dimulai dengan edukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dan bagaimana program ini dapat membantu mengurangi limbah plastik. Warga diajarkan cara memilah sampah plastik yang dapat didaur ulang, dan mereka diberikan insentif melalui aplikasi berbasis web yang mencatat jumlah sampah yang terkumpul. Selain itu, tim Replastico juga berhasil membangun bank sampah yang terintegrasi dengan aplikasi, memberikan kemudahan bagi warga dalam mengelola sampah mereka secara terstruktur. Aplikasi ini menyediakan layanan pengumpulan sampah dan memberikan insentif berupa poin yang dapat ditukar dengan hadiah. Selama implementasi, Replastico telah berhasil melakukan pemasangan turbin angin yang menggerakkan mesin pencacah plastik dan sistem kelistrikan yang mendukung operasi. Mesin pencacah plastik berfungsi dengan baik dan menghasilkan cacahan plastik yang siap untuk diproses lebih lanjut. Hasil dari pengolahan sampah plastik ini tidak hanya digunakan untuk keperluan infrastruktur desa, tetapi juga dipasarkan untuk menciptakan ekonomi sirkular yang melibatkan seluruh masyarakat desa. Sosialisasi yang dilakukan secara langsung dengan masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Tim Replastico melibatkan warga dalam setiap tahapan, mulai dari pemilahan sampah hingga pengolahan produk akhir. Program sedekah sampah juga diluncurkan untuk mendorong masyarakat agar lebih aktif memilah sampah mereka dengan memberikan kupon yang dapat ditukar dengan hadiah. Selain itu, komunitas peduli lingkungan yang dibentuk oleh Tim Replastico berperan sebagai agen perubahan, menyebarkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah di tingkat desa. Dampak dari program ini sudah mulai terlihat. Masyarakat Desa Cibogo kini lebih sadar akan pentingnya memilah sampah plastik, dan hasil pengolahan sampah telah digunakan untuk membangun taman belajar untuk anak-anak TK di desa. Produk-produk dari sampah plastik ini juga telah dipasarkan, menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga. Dengan sistem yang sudah berjalan, Desa Cibogo kini dapat mengelola sampah mereka sendiri tanpa bergantung pada bantuan luar, setidaknya untuk lima tahun ke depan. Keberhasilan Replastico tidak terlepas dari kolaborasi antara berbagai pihak. Perangkat desa, seperti Ketua RT dan RW, serta Karang Taruna, sangat berperan dalam mendukung pelaksanaan program ini. Mereka membantu dalam logistik, memfasilitasi komunikasi dengan warga, dan turut serta dalam proses sosialisasi. Tanpa dukungan penuh dari masyarakat dan perangkat desa, program ini tidak akan berjalan seefektif ini. Meskipun Replastico telah mencapai banyak hal, tantangan tetap ada. Optimasi mesin pencacah plastik agar lebih efisien dan pengembangan produk untuk memenuhi kebutuhan pasar menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. Namun, dengan sistem yang kini telah berjalan mandiri, Replastico berpotensi menjadi solusi jangka panjang untuk pengelolaan sampah plastik di Desa Cibogo dan sekitarnya. Ke depan, Replastico memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh. Dengan rencana untuk diversifikasi produk, seperti menambah jenis produk baru, inovasi ini bisa terus dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi sirkular di Desa Cibogo. Selain itu, proyek ini juga membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan sekolahsekolah di desa, yang memungkinkan siswa belajar lebih banyak tentang pemilahan sampah dan pentingnya daur ulang. Ke depannya, Replastico berharap dapat menciptakan dampak yang lebih luas lagi, tidak hanya di Desa Cibogo tetapi juga diseluruh Indonesia. Replastico lebih dari sekadar proyek pengolahan sampah; ia adalah model inovasi sosial yang mengubah sampah plastik menjadi solusi berkelanjutan yang menguntungkan masyarakat. Dengan teknologi yang ramah lingkungan dan pendekatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, Replastico menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi dan inovasi dapat menyelesaikan masalah lingkungan sambil meningkatkan ekonomi lokal.

Top