Gerakkan Ekonomi Kayu Manis Malalak Barat
01 November 2024
Universitas Negeri Padang
Projek
- Judul:Gerakkan Ekonomi Kayu Manis Malalak Barat
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:SUMATRA BARAT, AGAM, MALAKAK, MALAKAK BARAT.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Negeri Padang
- Ketua:Rafii Ahmad Fahreza
- Angota#1:Rafii Ahmad Fahreza, Fikra Wais Alkani, Natasya Aprilia
SDGs
Kesetaraan Gender Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan EkonomiShare
Deskripsi
K AYU manis sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, namun nilai ekonominya sering tidak sepadan dengan kerja keras petani. Hasil panen hanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah kepada tengkulak. Kondisi ini juga dialami kelompok wanita tani dan ibu-ibu PKK di Nagari Malalak Barat, Kabupaten Agam, yang masih bergantung pada jalur pemasaran konvensional tanpa peluang menambah nilai produk. Dari persoalan itu lahirlah SmartCinnamon, sebuah inovasi yang digagas tim mahasiswa Universitas Negeri Padang. Program ini dirancang bukan hanya untuk mengenalkan teknologi digital, melainkan juga mengajarkan keterampilan baru agar masyarakat mampu mengolah dan memasarkan produk kayu manis dengan cara yang lebih modern. Solusi yang ditawarkan SmartCinnamon menyentuh dua sisi sekaligus. Pertama, pemberdayaan lewat workshop diversifikasi produk. Peserta dilatih mengolah kayu manis menjadi bubuk, sirup, teh, lilin aroma terapi, cinnamon roll, hingga churros. Setiap resep diuji dan disempurnakan agar hasilnya terstandar. Kedua, penguatan pemasaran melalui digitalisasi. Sebuah website diluncurkan untuk menampilkan produk-produk tersebut dan memudahkan transaksi secara online. Fitur yang ada di dalam website tidak hanya berfungsi sebagai toko digital. Ada menu edukasi diversifikasi produk, pelatihan pemasaran online, e-commerce untuk transaksi serta forum komunitas untuk berbagi pengalaman. Tim juga menyiapkan guidebook berisi panduan pengolahan, strategi branding, hingga tata cara menggunakan website. Pendekatan ini memastikan masyarakat tidak sekadar diajari, tetapi juga diberi pegangan untuk mengelola usaha secara mandiri. Implementasi SmartCinnamon melahirkan UMKM MalBar dengan enam produk resmi yang sudah berlabel dan bersertifikat halal. Produkproduk itu kini bisa ditemui tidak hanya di platform online, tetapi juga di minimarket Budiman, Citra Swalayan, Adinegoro, serta kafe wisata di Malalak. Kehadiran produk di pasar lokal memperluas akses konsumen dan meningkatkan daya tawar masyarakat. Perubahan nyata terlihat pada pendapatan. Sebelum program berjalan, penghasilan ratarata harian hanya sekitar Rp75 ribu. Kini, dengan adanya diversifikasi produk dan bazar UMKM, pendapatan bisa meningkat hingga Rp500 ribu per hari. Anggota KWT yang semula hanya bergelut di kebun kini lebih percaya diri memasarkan produk dengan pendekatan digital. Kesuksesan ini tidak muncul sendirian. Mahasiswa sebagai pelaksana, dosen pendamping sebagai pembimbing, pemerintah nagari, dinas perkebunan, hingga Wakil Bupati Agam terlibat aktif. Mereka memberikan dukungan legalitas, distribusi, hingga bantuan bibit. Akademisi turut membantu memperkuat branding, sementara pelaku usaha lokal ikut membuka jalur pemasaran. Kolaborasi yang terbangun menjadikan proyek ini semakin kokoh.