Bengkala Menjadi Desa Wisata Inklusif Berbasis Teknologi
01 November 2024
Universitas Pendidikan Ganesha
Projek
- Judul:Bengkala Menjadi Desa Wisata Inklusif Berbasis Teknologi
- Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
- Lokasi Sosial Projek:BALI, KABUPATEN BULELENG, KUBUTAMBAHAN, BENGKALA.
Inovator
- Perguruan Tinggi:Universitas Pendidikan Ganesha
- Ketua:I Gede Putu Aris Saputra Pratama
- Angota#1:I Gede Putu Aris Saputra Pratama, I Putu Arista Apriliawan, I Putu Krisna Pramana Yuda
SDGs
Kesetaraan Gender Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan EkonomiShare
Deskripsi
DESA Bengkala di Kabupaten Buleleng, Bali, dikenal luas sebagai “desa kolok” karena memiliki komunitas tuli-bisu yang cukup besar. Keunikan inilah yang sebenarnya dapat menjadi daya tarik wisata. Namun, sejak kerja sama dengan pihak luar berakhir pada 2019, geliat pariwisata desa mulai meredup. Produk-produk lokal seperti kain tenun Bengkala dan jamu kunyit Sakuntala hanya dipasarkan seadanya dengan kemasan sederhana. Promosi hampir tidak dilakukan, fasilitas homestay terbengkalai, dan jumlah kunjungan wisatawan menurun drastis. Kondisi tersebut diperburuk oleh minimnya keterampilan masyarakat dalam pemasaran digital serta pengelolaan akomodasi wisata. Melihat potensi yang terabaikan, sekelompok mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha menggagas solusi berbasis teknologi. Mereka mengembangkan Desa Wisata Tuli-Bisu Bengkala dengan guide digital sebagai tulang punggung inovasi. Website resmi desa wisata dibuat sebagai pusat informasi terpadu, menampilkan profil desa, sejarah, atraksi budaya, destinasi alam, serta layanan homestay. Pada setiap destinasi, dipasang QR Code yang dapat dipindai wisatawan untuk mengakses informasi dalam bentuk teks, gambar, video, hingga penerjemah bahasa isyarat. Fitur multibahasa yang tersedia juga memudahkan turis asing memahami keunikan budaya Bengkala. Inovasi tidak berhenti pada teknologi. Warga, terutama perempuan tuli-bisu yang tergabung dalam Sanggar Wanita Kolok, dilibatkan aktif melalui berbagai pelatihan. Mereka belajar mengemas kain tenun Nundeka dan jamu kunyit Sakuntala dengan tampilan modern, serta memasarkan produk melalui media sosial dan marketplace. Tim juga melatih pengelolaan homestay Villa Kolok, manajemen paket wisata, hingga pembuatan konten kreatif di Instagram dan TikTok. Pendekatan ini memperkuat keterampilan masyarakat sekaligus membuka akses yang lebih luas ke pasar global. Hasilnya nyata. Sebanyak 42 keluarga kolok kini merasakan peningkatan pendapatan signifikan. Dari penjualan jamu, rata-rata penghasilan harian mencapai Rp200 ribu, sementara dari kain tenun bisa mencapai Rp400 ribu. Sistem promosi digital juga membawa perubahan besar: website desa wisata mampu menarik hingga 1.000 pengunjung daring per hari, sementara kunjungan wisatawan mancanegara, termasuk penyandang disabilitas, semakin meningkat. Desa Bengkala pun masuk dalam paket wisata resmi yang ditawarkan agen perjalanan dan hotel, menambah eksposur sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Dampak sosialnya tak kalah penting. Masyarakat tuli-bisu yang dulu kerap terpinggirkan kini tampil percaya diri sebagai pengrajin, pemandu wisata, hingga pengelola akomodasi. Mereka merasa dihargai karena memiliki peran langsung dalam pembangunan ekonomi desa. Lebih jauh, keterampilan digital yang diperoleh membuka peluang baru untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kesuksesan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kelompok sadar wisata, LSM, hingga dukungan lembaga pendidikan. Dengan pendampingan berkelanjutan, Desa Bengkala bertransformasi menjadi model wisata inklusif yang ramah perempuan, ramah anak, sekaligus ramah bagi penyandang disabilitas. Transformasi Bengkala menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan inklusi. Melalui guide digital, desa ini tidak hanya menjaga tradisi dan budaya lokal, tetapi juga menegaskan diri sebagai destinasi wisata yang modern, setara, dan berkelanjutan. Bengkala kini bukan hanya sekadar desa wisata, melainkan simbol bagaimana keterbatasan bisa berubah menjadi kekuatan bersama.