Loading...

Air Buangan AC Jadi Sumber Kehidupan Baru di Kampus Syiah Kuala

01 November 2024
Universitas Syiah Kuala

Projek

  • Judul:Air Buangan AC Jadi Sumber Kehidupan Baru di Kampus Syiah Kuala
  • Tanggal:01 November 2024 - 01 Februari 2025
  • Lokasi Sosial Projek:ACEH, BANDA ACEH, SYIAH KUALA, GAMPONG KOPELMA DARUSSALAM.

Inovator

  • Perguruan Tinggi:Universitas Syiah Kuala
  • Ketua:M. Akbar Latif
  • Angota#1:M. Akbar Latif, Alya Irzan Ramadhani, Rizkiya Dwi Atikah

SDGs

Menghapus Kemiskinan Menjaga Ekosistem Laut

Share

Deskripsi

WARGA pemukiman yang bersebelahan dengan Universitas Syiah Kuala, Gampong Kopelma Darussalam, memiliki masalah akses air bersih. Sebagian besar rumah tangga masih bergantung pada air sumur dan layanan PDAM yang kerap tidak konsisten. Di sisi lain, air buangan dari pendingin ruangan (AC) setiap hari mengalir begitu saja ke saluran pembuangan. Padahal, air kondensasi ini lebih jernih daripada air hujan dan jumlahnya tidak sedikit. Fenomena pemborosan inilah yang ditangkap oleh sekelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala dalam proyek sosial bertajuk ACtivate Squad. Berangkat dari kesadaran itu, tim menggagas sistem otomatis pemanfaatan air buangan AC. Ide sederhananya adalah menyalurkan air kondensasi ke penampungan, lalu menggunakannya untuk menyiram tanaman. Dengan bantuan sensor ketinggian air dan kelembapan tanah yang terhubung ke mikrokontroler ESP32, pompa bekerja secara otomatis sesuai kebutuhan. Sistem ini terintegrasi dengan aplikasi berbasis Android sehingga kondisi air dan tanah dapat dipantau jarak jauh. Solusi ini ditujukan bukan hanya untuk mengurangi ketergantungan pada air bersih, tapi juga untuk mendukung penghijauan lingkungan. Perjalanan implementasi berlangsung bertahap. Pada awalnya lokasi dipilih di kantor Geuchik, namun setelah survei, sistem dipasang di Laboratorium Terpadu kampus agar lebih mudah dipantau. Proses perakitan dilakukan dengan teliti, dari pembelian komponen hingga kalibrasi sensor. Uji coba memastikan air dari 10 unit AC dapat dikumpulkan sekitar 150 liter per hari untuk menyiram taman seluas 50 meter persegi. Sosialisasi kepada staf laboratorium pun digelar, lengkap dengan pelatihan pemeliharaan sederhana agar sistem tetap berfungsi tanpa bergantung pada tim pengembang. Hasil yang dicapai cukup nyata. Sebelumnya, lima orang staf pengelola taman harus menyiram secara manual dua kali sehari. Kini, dengan sistem otomatis, beban kerja mereka berkurang drastis. Tanaman mendapat pasokan air yang stabil, sementara penggunaan air bersih berkurang signifikan. Sistem tetap memberi opsi penyiraman manual bila diperlukan, sehingga fleksibilitas tetap terjaga. Model ini memberi contoh bagi masyarakat Gampong Darussalam, kawasan yang penuh bangunan ber-AC, tentang cara memanfaatkan air buangan yang selama ini terabaikan. Keberhasilan ini juga lahir dari kerja sama banyak pihak. Mahasiswa sebagai pelaksana teknis, dosen pembimbing yang memberi arahan, hingga pengelola laboratorium yang menyediakan fasilitas. Dengan biaya operasional rendah dan pemeliharaan sederhana, sistem ini berpotensi diterapkan di berbagai bangunan lain—dari kantor, sekolah, hotel, hingga rumah sakit. Di tengah meningkatnya kesadaran akan konservasi air, inovasi ini menjadi bukti bahwa solusi berkelanjutan bisa lahir dari pengamatan seharihari yang jeli.

Top